<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389</id><updated>2011-04-22T08:18:52.060+07:00</updated><title type='text'>Materi Kuliah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116667597868889124</id><published>2006-12-21T11:35:00.000+07:00</published><updated>2006-12-21T11:39:38.980+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 12</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 12&lt;br /&gt;Feature di Media Massa II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disebutkan sebelumnya, ada seribu satu pilihan untuk uraian atraktif yang dibuat sebagai pembuka feature. Contoh-contoh yang diperlihatkan ini adalah sebagian dari model paragraph pembuka feature yang pernah dan juga kerap digunakan orang. Di luar itu terbuka berbagai kemungkinan lain yang juga menarik dan itu sangat tergantung pada ketrampilan penulis dalam menemukan pendekatan yang menawan perhatian pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis lead ada beberapa pantangan yang perlu diperhatikan. Ada beberapa jenis lead yang sebaiknya tidak dipakai karena ia sama sekali tidak menarik buat pembaca ( ia dikategorikan tidak menarik, lewat suatu survey yang pernah dilakukan di Amerika Serikat). Lead bernada pertanyaan, bernada filosofis, dan lead yang terasa sombong, tidak disukai oleh pembaca pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Lead pertanyaan&lt;br /&gt;Feature ditulis dengan tujuan bercerita kepada pembaca. Oleh karena itu jangan sodorkan pertanyaan kepada khalayak di awal tulisan. Pertanyaan tidak akan mengundang orang untuk membaca karena pertanyaan selalu mengharapkan orang untuk menjawab. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Pernahkah anda membayangkan indahnya alam Parapat dengan hamparan air danau Toba yang jernih dan bersih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bagi orang yang pernah mengunjungi Parapat dan melihat danau Toba, daya tarik lead ini tidak ada sama sekali. Diantara pembaca yang belum pernah mengunjungi Parapat dan melihat danau Toba, ada beberapa banyakkah yang sedang dalam keinginan yang kuat untuk datang ke sana sehingga tertarik membaca lead ini?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, ada pengecualian. Lead bernada pertanyaan dapat saja dibuat, asalkan pertanyaan itu tengah ditunggu oleh khalayak luas. Contohnya seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Dapatkah Zidane dan kawan-kawan menaklukkan “pasukan samba” Brasil dan mempersembahkan piala Dunia bagi rakyat Perancis malam ini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lead seperti diatas dapat dipilih untuk news feature yang mencoba melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, atau prospek untuk pertandingan final sepakbola Piala Dunia 1998 – Brasil vs Perancis – yang dimuat dalam suratkabar, pada hari sebelum berlangsungnya pertandingan. Pertanyaan “siapakah yang akan menang” tengah hidup dalam pikiran khalayak luas, dan jawaban tentang itu yakni pertandingan tersebut, sedang mereka tunggu. Pada saat seperti itu lead pertanyaan dapat memiliki kekuatan dalam merebut perhatian pembaca. Di luar keadaan yang seperti itu hampir tak ada lead pertanynaan yang dapat disebut atraktif bagi pembaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Lead bernada filosofis&lt;br /&gt;Jangan awali tulisan dengan uraian yang semua pernyataannya dapat disambut pembaca dengan anggukan artinya, masalah yang diuraikan itu adalah masalah yang sudah sangat diketahui orang, atau masalah yang memang seharusnya demikian adanya. Lead dengan nada seperti itu juga tidak lagi menarik buat khalayak. Contohnya seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Indonesia adalah negeri kepulauan yang kaya akan kesenian dan tradisi daerah yang senantiasa menarik bagi para pelancong asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Telah terlalu banyak orang yang tahu tentang ini, dan sudah terlalu sering pernyataan seperti itu diulang. Oleh karena, sebagai lead, pernyataan tersebut jadi tumpul).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Generasi muda adalah pemilik masa depan, generasi yang akan menentukan bagaimana corak dan kehidupan bangsa ini kelak kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sejak Adam dan Hawa turun ke dunia, generasi mudalah yang menjadi pemilik masa depan. Itu memang demikian adanya. Jadi, ia tak menarik lagi untuk pembuka cerita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Lead pongah/sombong&lt;br /&gt;Hindarilah kesan sombong pada paragraph pertama, karena ia dapat membuat pembaca patah selera, bahkan antipati, seperti contoh berikut ini.&lt;br /&gt;…..Minggu lalu wartawan anda menyempatkan diri tinggal lima hari di Karawang, menyaksikan penduduk yang kekurangan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Menyempatkan diri” menyaksikan orang kelaparan, adalah kata-kata yang tidak simpatik dan dapat membuat orang tidak suka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih lead adalah sebagian kecil dari persoalan menulis, tetapi ia merupakan pekerjaan pertama dalam membuat tulisan yang akan menentukan bagaimana uraian selanjutnya berjalan.  Di situ kreatifitas sangat diperlukan, dan salah satu yang dapat menolong penulis untuk pekerjaan itu adalah pengalaman membaca yang cukup banyak. Lead bagaikan etalase untuk toko. Jika etalase itu tidak ditata dengan menawan, daya tariknya dalam mengundang orang yang lalu lalang untuk masuk akan sangat rendah. Sebaliknya, kalau etalase itu dibuat atraktif, ada kemungkinan orang yang sebetulnya belum punya minat untuk berbelanja terundang untuk melihat, dan – boleh jadi – dia berbelanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Feature mirip bahasa cerita pendek – Feature sangat mengutamakan kejelasan dan kelancaran bahasa. Bahasa yang dipergunakan hendaklah bahasa popular. Ia harus dibuat dengan rasa bahasa yang baik, pendekatan yang efektif, pemakaian istilah yang tepat, dan dengan mempertimbangklan irama kalimat. Ia tidak perlu dibuat terlalu berbunga-bunga, karena keindahan bahasa jurnalistik banyak ditentukan oleh tempo kalimat dan kekuatan pilihan kata. Bahasa feature mirip dengan bahasa cerita pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angle feature tunggal – Dalam memaparkan masalah, feature selalu memilih satu sudut pandang. Makin sempit masalahnya, makin baik. Dalam perumpamaan dikatakan, berbicaralah tentang piring porselen, jangan berbicara tentang barang pecah belah. Feature melihat salah satu segi untuk suatu masalah. Segi yang lain untuk masalah yang sama selayaknya dibicarakan dalam feature yang lain pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang tulisan -- 500 – 750 kata.&lt;br /&gt;Sejak majalah berita memberikan pelayanan pemberitaan kepada masyarakat, penulisan interpretative (baiuk dalam bentuk indepth report maupun dalam bentuk feature) menjadi jenis artikel yang tidak asing lagi bagi pembaca. Itu terutama ditandai oleh terbitnya majalah TIME pada tahun 1923 yang menonjolkan corak penulisan yang interpretative tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, majalah berita banyak memberikan perhatian (diisi dengan) news feature. Pada majalah-majalah khusus – misalnya majalah remaja, kesehatan, olahraga, teknologi, maupun majalah wanita – feature hadir dalam variasi yang lebih banyak. Suratkabar, selain menyajikan news feature, juga memberikan perhatian pada berbagai kenis feature yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifat isinya, feature dapat digolongkan menjadi beberapa kenis, sebagia berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bright – Adalah tulisan pendek (bukan berita) dengan unsure human interest yang menonjol dari suatu kejadian.masalah. Ia dapat ditulis sangat pendek: antara 100 s/d 200 kata. Isi rubrik “Indonesiana” di majalah TEMPO, adalah contoh Bright. Contoh berikut ini juga bright (perhatikan lead yang dipakai dan bahasa yang dipergunakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Malu bertanya, sesat di jalan, malas belajar, ilmu tak dapat, begitu kata pepatah lama. Tapi, hari yang penuh dengan kekerasan di Jakarta, mengajarkan kepada Nikin, rajin menjarah, barang tak dapat.&lt;br /&gt;Ketika kerusuhan yang disertai penjarahan, pengrusakan dan pembakaran pecah di Glodok, Jakarta, Jumat (15/5) lalu, Nikin aktif ambil bagian. Pemulung berusia 24 tahun yang sehari-harinay berkeliling dengan gerobaknya ini, kebetulan berada di sekitar Glodok Plaza pada hari bersejarah itu.&lt;br /&gt;Seperti dikejutkan air bah yang dating tiba-tiba, Nikin, terkesima menyaksiukan ratusan orang mendobrak dan masauk pusat pertokoan itu, Sejenak dia hanya jadi penonton. Dia melihat orang-orang “berbelanja”, bebas memilih barang, dan mendapatkannya tanpa harus membayar sepeserpun.&lt;br /&gt;Nalurinya segera tergerak untuk ikut “memulung” barang-barang mewah yang bebas dibawa tanpa risiko berurusan dengan polisi. Secepat kilat dia berlari masuk. Hah, sebuah pesawaty televisi, entah ukuran berapa inch digondolnya. Secepat kilat pula dia kembali ke gerobaknya dan menaruh barang itu di dalamnya.&lt;br /&gt;Tapi aksinya belum berakhir. Satu kesempatan lagi masih ada, mungkin itu yang terlintas di dalam pikirannya. Segera dia ambil keputusan, masuk lagi, dan juga sukses seperti yang tadi dia lakukan.  Kali ini dia mendapat sebuah CPU komputer, tanpa monitor dan tanpa keyboard. Nikin mungkin tidak mengerti barang apa yang dia ambil. Namun untuk apa itu dipikirkan. Ditaruhnya CPU itu di dalam gerobaknya dengan cepat, di samping televisi tadi, dan secepat itu pula dia masuk lagi buat “memulung” jarahan berikutnya.&lt;br /&gt;Tetapi kali ini perjuangan nya lebih berat. Manusia begitu banyak, lari berbondong-bondong, bertabrakan satu dengan yang lain. “Stock barang” tinggal sedikit, tapi Nikin mencoba untuk berjuang. Api mulai berkobar dan kepanikan mulai terasa. Di saat dia berpacu dengan kecepatan si jago merah dia sambar sebuah kotak karton. Ukurannya kecil saja, dan ringan pula, sehingga tidak membuat dia kesulitan berlari menyelamatkan diri. Dia lolos, dan tiba kembali di tempat dia memarkir gerobaknya tadi. Tapi sang gerobak bersama pesawat televisi serta benda aneh yang tidak dia ketahui tadi (CPU komputer), tidak ada lagi di sana karena sudah dijarah penjarah yang lain. Nikin mungkin merasa dengkulnya lemas waktu itu. &lt;br /&gt;Dia lihat semua orang dalam keramaian itu dan dia sidik berbagai penjuru. Hasilnya nihil. Ketika dia tiba di tempat yang lebih aman, di dekat seorang pria berdasi yang dengan wajah tak percaya menyaksikan drama yang tengah berlangsung itu, Nikin membuka kotak karton yang dibawanya. Isinya aneh. Dia tidak mengerti apa yang dia peroleh.&lt;br /&gt;Dengan sebuah keberanian dia dekati lelaki berdasi tadi, dan bertanya, “Oom, ini apa sih?”, datar tanpa ekspresi, pria itu menjawab, “Hh, kamu dapat mouse pad”.&lt;br /&gt;Di dalam kotak itu hanya tertinggal tiga mouse pad, dan Nikin tetap tak tahu apa dan untuk apa lembaran karet di kotak itu, karena sesal sedang megnusik perasaannya. &lt;br /&gt;Dia mempersalahkan dirinya sendiri, kenapa televisi dan benda asing itu tadi dia tinggalkan. Kecewakah dia? Mungkin. Boleh jadi juga Nikin sedih kehilangan “kawan seperjuangannya”, gerobak kayu yang satu setengah tahun menemaninya memulung barang buangan di Jakarta Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Profile -- Profile atau sketsa pribadi adalah ceritra tentang seorang tokoh, baik menyangkut karirnya, pandangan, riwwayat hidup pendek, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Contoh untuk itu mudah ditemukan di berbagai media cetak. Isi rubrik “Pokok dan Tokoh” majalah TEMPO, MAUPUN ISI RUBRIK “Nama dan Peristiwa di KOMPAS adalah sketsa pribadi atau profile yang dimaksud itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pengalaman pribadi – Feature pengalaman pribadi adalah cerita yang isinya pengalaman yang dirasakan sendiri oleh penulis. Pengalaman yang layak untuk dijadikan feature seperti ini hendaknya pengalaman yang tidak bersifat “biasa-biasa” saja., walaupun tidak perlu pula merupakan pengalaman yang sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Feature yang memperkenalkan sesuatu – Feature yang memperkenalkan sesuatu adalah artikel pendek yang ditulis untuk tujuan memperkenalkan sesuatu (bukan manusia) kepada pembaca, misalnya institusi baru, atau produk baru (kamera, pesawat tempur, software komputer dan sebagainya). Bagi orang-orang yang bekerja sebagai Public Relations jenis tulisan ini banyak gunanya. Apalagi jika harus menulis advertorial yang hendak mempromosikan sesuatu. Yang perlu diperhatikan dalam menulis ialah, feature tersebut harus kuat dalam deskripsi yang menunjukkan apa dan bagaimana sesuatu yang diperkenalkan itu, termasuk misalnya keunggulan-keunggulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Feature yang mengajarkan sesuatu – Featrure seperti ini adalah tulisan yang memaparkan hal-hal berupa persiapan, peralatan, dan tindakan yang harus dilakukan untuk mengerjakan (termasuk membuat sesuatu. Misalnya bagaimana memberikan pertolongan pertama bagi penderita eltor (muntah berak), bagaimana melayani anak-anak yang sangat cerewet bertanya karena rasa ingin tahunya terlalu tinggi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Artikel ilmiah popular – Feature jenis ini adalah tulisan yang menceritakan suatu masalah dengan mengambil referensi dari sumber-sumber ilmiah: buku, hasil penelitian, dan bahkan dari bidang pengetahuan social dapat dipilih untuk tulisan ilmiah popular. Gerhana matahari, kelainan pada musim, tentang komputer daqpt ditulis secara popular dengan menggunakan sumbr-sumber ilmiah sebagai sandaran. Tawuran pelajar mislnya, dapat diterangkan dengan menggunakan referensi psikologi dan bahkan kriminologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Feature sejarah – Feature jenis ini adalah kisah pendek yang mengungkapkan kembali peristiwa bersejarah yang “jauh” dari ingatan pembaca pada suatu saat, tapi tanpa disertai analisis histories. Ia betul-betul hanya berupa pengungkapan kembali catatan-catatan sejarah, tanpa interpretasi dan pendapat penulisnya. Tema-tema seperti proklamasi kemerdekaan, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Konferensi Meja Bundar, bagimana awal mulanya RRI berdiri, bagaimana TVRI dipersiapkan, pengunduran diri Bung Hatta sebagai Wakil Presiden 1956, peristiwa pada 30 September 1965 malam dan sebagainnya, dapat diangkat menajadi feature sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. News feature --  Seperti dikemukakan pada bagian terdahulu, news feature berjalan mengiringi news yang actual pada suatu waktu. Hard news melaporkan kejadian yang muncul dan berkembang dalam mayarakat pada suatu saat. News feature mencoba membuka background masalahnya agar pembaca mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang how dan why kejadian ataupun masalah itu. Dengan kata lain, news feature menyodorkan fakta yang membuat orang megnerti duduk perkara suatu berita. Perhatikan contoh berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Pada awal Januari 1984 terjadi kudeta di Nigeria yang dilancarkan oleh Mayor Jenderal Mohammed Buhari, menggulingkan presiden Shebu Shagari. Sudahlah pasti peristiwa itu dilaporkan oleh hard news dengan segera. Pada hari-hari selanjutnya, hard news yang menceritakan perkembangan mutakhir sesudah kudeta itu beberapa kali muncul berturut-turut. Tetapi hard news hanya bercerita sekadarnya, dengan fakta dangkal seputar peristiwa kudeta itu. Media massa merasa perlu memberikan penjelasan kepada pembacanya tentang sesuatu “di balik” kudeta itu, yakni ikhwal perkembangan demokrasi di negara-negara Afrika, serta bagaimana pembangunan yang katanya untuk mengisi kemerdekaan berlangsung di sana. &lt;br /&gt; Semuanya itu “diterangkan” oleh news feature berikut ini, yang muncul dalam media massa dengan dicetuskan oleh kudeta di Nigeria terebut. Peristiwa kudeta itu sendiri, atau berita hard news tentang kudeta terebut menjadi peg (pasak yang menguatkan aktualitas masalah atau bias juga disebut sebagai cantolan) bagi news feature tersebut. Inilah yang dimaksud dengan news feature “berjalan mengiringi” news yang actual pada suatu waktu dan memberikan penjelasan kepada khalayak dengan menjawab why dan how secara lebih rinci. Perhatikan contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; …..Pabrik roti semi otomatis di Dar es Salam, Tanzania, kerap kali ketiadaan terigu sehingga harus berhenti berproduksi. Ini hanyalah satu diantara banyak soal yang dapat menjadi lambing kehancauran ekonomi negeri-negeri Arika, benua Negro yang mengukir riwayat politik dan demokrasinya dengan warna serba hitam.&lt;br /&gt; Tokoh yang lebih bersikap demokratis Shebu Shagari, 58 dari Nigeria, tergusur dari kursi kepresidenannya oleh kudeta militer “pembuka tahun 1984” yang dilancarkan Mayor Jenderal Mohammed Buhari, 41. Dengan alasan menyelamatkan Nigeria dari kehancuaran total, Buhari menambah jumlah negeri Afrika yang kini berada dalam genggaman rezim militer menjadi 17. Di sampingnya masih ada 17 negara lagi yang pemerintahannya dikendalikan partai tunggal. Sekarang Cuma tujuh dari 41 negara Afrika yang memberikan hak hidup bagi partai oposisi.&lt;br /&gt; Mungkin karena itu orang megnatakan, cita-cita demokrasi Afrika terpenjara dalam berbagai peristiwa rebut-merebut kekuasaan di beberapa negara yang terjadi susul-menyusul. Dalam seperempat abad belakangan ini. Lebih dari 70 kepala pemerintahan di 29 negeri Afrika terjungkir dari kursinya, terbunuh ataupun terusir dalam kudeta.&lt;br /&gt; Negeri-negeri yang megnhadapi kesulitan ini memperoleh kemerdekaannya sepanjang 1950-an dan 1960-an setelah dijajah bangsa-bangsa Eropa Barat. Tap[I beberapa dasawarsa sesudah ramainya teriakan “Uhuru” – pekik kemerdekaan dalam bahasa Swahili – para pemimpin di benua hitam itu menyaksikan kenyataan bahwa retorika anti kolnialisme sama sekali tidak memecahkan kesulitan hidup rakyat mereka, secar pol;it is maupun ekonomis. “Pada mulanya, kami optimis”, kata bekas Presiden Senegal, Leopold Senghor, 77, kepada wartawan TIME belum lama ini. “Sekarang”, katanya lagi, “kami sering jadi pesimistis”. Senghor yang memimpin Senegal sejak 1960 sampai 1980, pernah masuk nominasi untuk memenangkan Hadiah Nobel. Dialah salah seorang dari tiga pemimpin Afrika – dua lainnya adalah bekas Presiden Kamerun Ahmaduo Ahidjo, dan tokoh militer Nigeria, Jenderal Olusegun Obasanjo – yang melepaskan kedudukkannya secara sukarela.&lt;br /&gt; Penduduk di sebelah selatan gurun Sahara itu ini bertambah dengan cepat – angka pertumbuhan 2,9% oer tahun, tertinggi di dunia – membarengi kesulitan ekonomi yang melilit mereka. Dalam tahun tahun 1960, secara keseluruhan penduduk negeri ini hanya 210 juta jiwa, sekarang tercatat 393 juta jiwa. Untuk membawa mereka keluar dari kesulitan ekonomi, tampaknya belum ada pilihan lain, kecuali bantuan luar negeri. Tapi bantuan ini pun merisaukan. Setiap tahun bantuan itu diperkirakan mencapai US$100 miliar. Rakyat Afrika terpaksa meminta penjadwalan kembali hutang-hutang itu dengan alas an negara nyaris bangkrut.&lt;br /&gt; Namun penyakit yang diidap Afrika bukan hanya masalah ekonomi, soal pengunsi dan kelayuakan hidup ratusan juta rakyat. Para pengamat menyebut, birokrasi yang tidak efisien dan korup turut memperbesar beban yang dipikul. Tahun lalu, Predien Zaire, Mobutu Sese Seko, dituduh bekas menteri luar negerinya menggelapkan uang negara US$1 miliar. Menurut perkiraan, malah Mobutu memiliki kekayaan hampir US$4 miliar, yang sebagian besar ditanamnya di bank Swiss.&lt;br /&gt; Dalam soal penggunaan dana secara tak wajar ini,  Mobutu tidak sendirian. Jean-Badel Bokassa, di Afrika Tengah, 1976, menobatkan dirinya menjadi kaisar dengan upacara akbar yang menelas biaya US$29 juta. Duya juta dolar habis untuk mahkota emasnya yang bertaburkan intan berlian. Hampir dua tahun sesudah itu, Bokassa terpelanting pula dari singgasananya. Shagari di Nigeria adalah pegnhambur dana yang lain, yang membangun ibukota, Abuja dengan biaya yang direncanakan mencapai US$16 miliar, ketika ribuan rakyatnya hidup di slum, di bawah batas kelayakan.&lt;br /&gt; Pada awal kemerdekaan dulu, banyak pemimpin Afrika terpukau oleh system sosialis. Tetapi system sosialis Marxis oleh para pengamat Barat dilihat sebagai model yangtak banyak membawa sukses. Ghana, negeri yang kaya akan sumber alam dibawah Jerry Rawling, 36, kini menghadapi kenyataan eknomi yang kian sulit. Begitu juga dengan Julius Nyerere, dari Tanzania – salah seorang pemimpin Afrika yang memulai pembangunan dari sector ekonomi – pada akhirnya pun megnhadapi situasi butuk dengan merosotnya ekspor hasil perkebunan 40% dibadingkan dengan tahun 1970.&lt;br /&gt; Adakah jalan buat Afrika? Leopold Senghor, kini melihat kerjasama Afrika, Asia dan negeri Pasifik sebagai suatu pilihan untuk memecahkan kesulitan ekonomi. Namun politik demokrasi senantiasa rawan, dan  menurut negarawan Afrika terpandang ini, kudeta yang terjadi silih berganti  tidaklah bias diabaikan. “Kami”, kata Senghor, “terlalu penurut, membiarkan diri kami di bawah pengaruh Amerika Serikat, Soviet, bahkan Inggeris serta Perancis” …...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mamahami feature lewat karakter tulisan ini, kita dapat mengatakan  feature – sama dengan berita – selalu memberikan perhatian pada fakta yang sifatnya penting bagi publik (mengandung kepentingan umum) ataupun fakta yang bersifat menarik bagi khalayak. Hanya saja wartawan atau penulis feature, dalam menyiapkan bahan diharapkan berperan mirip dengan researcher.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum menulis feature, sebagaimana sudah diuraikan di muka, adalah mengumpulkan dokumentasi yang dapat membantu penulis dalam memperoleh fakta, Studi dokumentasi juga dipergunakan sebagai bekal untuk langkah berikutnya, yakni wawancara (menentukan butir-butir yang harus dicari jawabannya dalam wawancara). &lt;br /&gt; Pada saat wawancara dilakukan, observasi juga harus dilaksanakan. Hasil dari ketiga kegiatan inilah – studi dokumentasi, wawancara, observasi – yang ditulis menjadi feature.&lt;br /&gt; Banyak orang yang berpikir bahwa bahan yang dikumpulkan hanyalah sebanyak yang ditulis dalam feature itu sendiri. Pandangan keliru. Seorang penulis memerlukan bahan yang jauh lebih banyak dari yang sekadar yang harus dia tulis.&lt;br /&gt; Pelajari semua bahan itu dengan seksama dan tentukan kerangka masalahnya. Buatlah outline, agar organisasi fakta dan penggambaran masalah menjadi lebih jelas. Rumuskan kerangka masalah itu secara sederhana dalam selembar kertas, dan tulislah masalah terebut sesuai dengan struktur yang ada dalam outline itu.&lt;br /&gt; Tidak seharusnya semua bahan yang didapat itu dituangkan dalam tulisan. Ada bagian-bagian yang harus diambil, dan banyak bagian yang perlu disisihkan. Seleksi ini sangat ditentukan oleh angle yang dipilih untuk feature yang disiapkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pikirkan rumusan paragraph pertama (lead atau intro) yang efektif dalam merebut perhatian pembaca seperti yang sudah diuraikan di muka. Hindari “lead trlarang”.Paragraf kedua harus dimulai dengan uraian yang “tersabung” secara baik dengan paragraph pertama (lead) dan paragraph demi paragraph haruslah tersambung erat dengan paragraph sebelum dan sesudahnya.&lt;br /&gt; Jangan lupa, hindari uraian yang terulang.&lt;br /&gt; Kata-kata yang tidak bermakna,misalnya “membawa kesan tersendiri”, “dan lain-lain” serta kata yang mirip dengan itu tidak ada gunanya diutlis. Pakailah bahasa secara cermat dan jelas, sesuai dengan kaidah bahasa jurnalistik.Jangan terlalu banyak berpikir tentang gaya, tapi utamakan isi.Kalau isi sudah baik, pada langkah kedua, boleh dipikirkan style penulisan.&lt;br /&gt; Bagaimanapun kekuatan feature tidak semata-mata pada gaya penulisan.Gaya (style) hanyalah salah satu dari unsure penguat feature tersebut.Kekuatan feature ditentukan oleh beberapa factor:&lt;br /&gt;1. Kelengkapan fakta yang dapat menjelaskan persoalan.&lt;br /&gt;2. Jedlasnya jalinan atau hubungan satu fakta dengan fakta yang lain, yang tersaji baik dari kalimat ke kalimat, dari paragraph ke paragraph, yang memungkinkan pembaca menemukan jalan pemikiran yang jelas.&lt;br /&gt;3. Kejelasan dan ketepatan bahasa yang dipakai.&lt;br /&gt;4. Menariknya gaya (style) penyajian/penulisan yang dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Warna” memang penting dalam feature. Perbandingan yang tepat, anekdot, deskripsi yang jelas adalah hal-hal yang dapat dipakai sebagai “penyedap” uraian. Buatlah variasi – selang-seling – antara paraphrase dengan kutipan, dan antara kutipan langsung dengan kutipan tidak langsung. Perhatikan irama tulisan yang ditimbulkan pemakaian kata, dan yang ditimbulkan oleh panjang pendeknya kalimat. Pengungkapan fakta harus akurat.&lt;br /&gt; Tugas penulis feature adalah membeberkan fakta dengan harapan, pembaca dapat menarik intrpreasi dari situ. Jangan menulis feature dengan memaksakan opini. Jika ingin menonjolkan opini anda tidak perlu menulis feature, tetapi tulislah opinion article. Hindari subyektivitas yang berlebihan yang tidak didukung oleh fakta.&lt;br /&gt; Feature dapat diakhiri dengan menyodorkan semacam kesimpulan kepada pembaca. Tapi ia juga dapat ditutup tanpa memberikan kesimpulan sama sekali, dan biarkan pembaca selesai hanya dengan mengetahui fakta, serta bebaskan mereka dalam memberikan interpretainya masing-masing.&lt;br /&gt; Feature yang kaya dan bagus dalam kelengkapan fakta tapi terasaji dalam urutan yang tidak runtut, akan membingungkan pembaca, atau sulit dimengerti. Feature yang bagus dalam kelengkapan fakta, tersaji dalam urutan yang runtut, jelas, dan tepat untuk bahasa yang dipakai, bias terasa kering jika miskin dalam style. Tapi feature yang hanya “bermodalkan” style dan kurang akan dukungan fakta, adalah sebuah kesia-siaan.&lt;br /&gt; Untuk menjadi penulis feature yang baik diperlukan upaya yang serius. Pada diri seorang penulis feature dituntut bebrapa syarat:&lt;br /&gt;1. Memiliki imajinasi kuat dalam membaca masalah ataupun peristiwa yang memungkinkan dia menemukan kisah yang “kena” di hati publik.&lt;br /&gt;2. Punya keteraturan dalam berpikir&lt;br /&gt;3. Punya kemampuan untuk research.&lt;br /&gt;4. Memiliki ketrampilan (cerdik) dalam menentukan pola tulisan atau struktur, sehingga laporan itu jelas dan memikat.&lt;br /&gt;5. Pandai berbahasa baik dan benar, serta kreatif menggunakan kata dan menyusun kalimat.&lt;br /&gt;6. Memiliki kemampuan observasi yang tajam&lt;br /&gt;7. Punya pengetahuan umum yang luas&lt;br /&gt;8. Ia memerlukan dukungan perpustakaan dan dokumentasi yang baik (lengkap).&lt;br /&gt;9. I penulis feature, sebagaimana seharusnya jurnalis, haruslah jujur. Dia tidak boleh mengatakan sesuatu lebih atau kurang dari kenyataan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anjuran yang mengatakan, jika Anda ingin jadi penulis yang baik, membacalah terus, menulislah terus dan berpikirlah terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Uraian pada bagian ini ini seluruhnya bernafaskan jurnalistik. Contoh-contoh yang disajikan adalah contoh yang diangkat dari pemberitaan media massa yang tidak berasal dari press release. Sengaja uraian ini dibuat demikian agar pengenalan kalian akan jurnalisme menjadi lebih baik, dalam kalau itu tercapai akan memudahkan jalan kalian dan orang-orang public relations dalam menyiapkan bahan siaran pers. Dengan memahami konsepsi serta teknik penulisan jurnalistik, akan lebih mduah bagi orang hubungan masyarakat/ public relations melayani pers dengan informasi yang perlu disampaikan dan pada saat yang sama memanfaatkan jasa media massa untuk kepentinganh public relations yang menjadi urusannya.&lt;br /&gt;Setelah mengenal dan menguasai cara jurnalis, orang hubungan masyarakat/public relations tinggal menentukan, apa yang hendak ditulis dalam bentuk apa ia disajikan dan media mana yang akan dipilih. Kunci keberhasilan untuk pekerjaan ini antara lain adalah, pahami fungsi anda dengan baik, jalankan peran secara bersungguh-sungguh, serta berpikir dan bekerjalah dengan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;Wassalamualaikum wb.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116667597868889124?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116667597868889124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116667597868889124' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116667597868889124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116667597868889124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/12/kuliah-12.html' title='Kuliah 12'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116615146244476717</id><published>2006-12-15T09:52:00.000+07:00</published><updated>2006-12-15T09:57:47.183+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 11</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 11&lt;br /&gt;Feature di Media Massa I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature adalah tulisan yang memiliki sifat “menjelaskan” peristiwa/masalah yang sering kita temukan di dalam media massa (Koran/majalah). Feature bukan “memberitakan segera sebuah peristiwa/masalah yang baru terjadi” sebagaimana halnya berita. Oleh karena itu pendekatan masalah melalui feature sangat berbeda dengan pendekatan melalui berita. Jika berita mengutamakan “kecepatan” dalam mengabarkan sesuatu, feature menyampaikan uraiannya tanpa harus terburu-buru walau ia tak boleh bertutur dalam tempo yang lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segi itu antara lain yang membedakan news dengan feature (di samping segi-segi lainnya, seperti kedalaman fakta dan warna dalam penulisan). Ia juga melahirkan perbedaan yang tegas antara pendekatan news lead dengan pendekatan feature lead. News lead lebih mengutamakan kecepatan dalam melaporkan secara jelas fakta yang paling penting ataupun fakta paling menarik untuk diketahui khalayak. Feature lead mengutamakan uraian yang aktraktif dalam membujuk pembaca untuk memberikan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak segi yang membedakan feature dengan news, walau dalam banyak hal ada persamaan antara satu dengan yang lain. Memahami segi-segi yang membedakan feature dengan berita ini masih menjadi kendala bagi banyak wartawan yang sangat terbiasa dengan penulisan hard news.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana fungsi media massa, feature disajikan kepada khalayak untuk tiga tujuan: memberikan informasi; menghibur; dan mendidik. Ketiga fungsi itu kadang-kadang hadir secara bersama-sama dalam satu feature, tapi seringkali pula salah satu di antaranya tidak terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulangnya feature dikategorikan sebagai tulisan yang lebih mengutamakan hiburan bagai pembaca. Tapi dalam perkembangannya kemudian dikenal feature yang berbicara untuk hal-hal yang serius )tapi tetap tersaji dalam uraian yang mudah dimengerti khalayak luas dengan bahasa yang ringan). Feature dengan tema serius seperti itu umumnya berupa artikel ilmiah popular dan news feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian akan menemukan banyak pendapat tentang batasan yang dibuat jurnalistik untuk tulisan yang namanaya feature. Ada yang menyebut feature sebagai sebuah tulisan yang menyuguhkan fakta dan ide yang berkaitan dengan fakta itu secara jeli, menyorot hal-hal yang dipandang punya arti penting, tapi tidak tampak oleh masyarakat banyak. Pendapat lain menempatkan feature sebagai sebuah tulisan yang mencoba menolong pembaca meliaht atau menyadari hal-hal yang oleh awam tidak dilihat. Dengan kata lain, dari seorang penulis feature dituntut adanya kepekaan menangkap hal-hal yang berada di belakang suatu kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature juga disebut sebagai tulisan ringan yang ditulis dengan mempertimbangkan kejelasan dan kelancaran uraian tentang sesuatu yang factual dan mencoba menelusuri jawaban why dan how lebih dari sekedar yang dilakukan berita (baik hard news maupun soft news). Tidak jarang pula ia menceritakan/melukiskan sesuatu yang berada di belakang berita. Dalam mencari bahan untuk ditulis jadi feature kita tidak selalu berputar-putar di sekitar sumber konvensional, tetapi juga memanfaatkan sumber inkonvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca defenisi tidak selamanya mengantarkan kita pada pengertian yang jelas tentang feature. Kantor berita Antara misalnya, menyebut feature sebagai karangan khas (hanya itu dan tidak jelas, khas dalam hal apa, atau kenapa ia disebut khas). Di kaalngan wartawan Indonesia sendiri terdapat kesimpangsiuran pemahaman tentang ini. Ada yang sekadar menyebutkan bahwa feature adalah tulisan ringan yang menghibur, berisikan unsur human interest. Dalam kenyataannya, feature bukan sekadar itu. Ada feature yang samasekali tak berisikan human interest (misalnya, news feature tentang persaingan antara dua produsen minyak goreng). Karena itu --- agar lebih jelas – nerikut ini feature diperkenalkan dengan membicarakan sifat-sifat yang ada pada jeanis tulisan ini, sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Feature&lt;br /&gt;1. Faktual – Feature adalah tulisan yang dibuat berdasarkan fakta. Yang ia ceritakan adalah kenyataan. Ia bukan karya fiktif yang berangkat dari rekaan penulisnya. Tema-tema feature adalah kenyataan yang ada di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;2. Menerangkan masalah, bukan melaporkan dengan segera – Feature bukan memberitakan (mengabarkan) kejadian/masalah kelada khalayak, tapi menerangkan kejadian/masalah itu dengan mengungkapkan jawaban unsure why dan how secara lebih rinci. Dalam menerangkan masalah – terutama untuk jenis yang disebut sebagai news feature – ia lebih mengutamakan pemaparan background masalah untuk mengantar orang pada pemahaman tentang suatu persoalan. Boleh jadi pula, ia mengajak pembaca masuk pada uraian yang mencoba melihat prospek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak memaksakan opini – Pada mulanya feature sama halnya dengan berita, tidak boleh dimasuki oleh opini penulis. Tapi dalam perkembangannya, walau masuknya opini penulis tetap harus dicegah, subyektifitas dan interpretasi penulis tak mungkin dibendung. Dalam mengungkapkan interpretasi tersebut, seorang penulis tidaklah pada tempatnya megnhadirkan penafsiran semata-mata. Penafsiran itu harus disertai dengan fakta yang mendukung penafsiran tersebut. Artinya, suatu interpretasi yang ditawarkan kepada pembaca harus didukung argumen yang jelas. Argumen tersebut boleh saja bersifat teoritik, tapi akan lebih berarti jika di dalam argumen itu diperlihatkan fakta yang memberikan dukungan secara kuat terhadap gagasan yang diajukan.&lt;br /&gt;4. Penulisan tidak dikekang pola piramida terbalik – Dalam penulisan berita, jurnalistik mengenal pola penulisan top heavy (berat di atas). Feature tidak demikian halnya. Karena feature tidak dibebani tugas “mengabarkan” maka ia tidak perlu ditulis dengan mendahulukan fakta paling penting atau fakta paling menarik seperti penulisan berita. Oleh karena itu pula, struktur artikel pyramid terbalik, tidaklah bentuk mutlak yang harus dipakai pada feature. Feature dapat ditulis dengan struktur yang lebih bebas, asalkan alur cerita, pengelompokan masalah, dan bahasa yang mengantarkan masalah itu dibuat dengan jernih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak selalu harus menjawab 5W + 1H dengan lengkap – Perbedaan lain antara berita dengan feature adalah dalam hal memberikan porsi untuk jawaban 5W + 1H (what, who, when, where, why, dan how). Berita yang baik harus lengkap menjawab keenam unsure pokok itu, walau dengan “fakta kulit” (tidak mendalam). Ferature untuk jenis-jenis tertentu dapat mengabaikan jawaban salah satgu dari enam unsure itu (misalnya: feature yang megnajarkan cara memelihara anggrek, tidak perlu menjawab unsure who, karena who itu adalah siapa saja yang ingin atau sudah memelihara anggrek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kebanyakan lebih tahan waktu – Untuk sebagian, feature lebih “tahan waktu”. Jika ia ditulis hari ini tapi tidak dapat disiarkan besok, lusa atau tiga hari kemudian, mingu yang akan dating pun tema yang disajikan feature itu belum akan tergolong basi. Tidak semua jenis feature yang memiliki ketahanan waktu seperti itu. News feature misalnya, adalah jenis yang harus tersiar segera, dei saat aktualnya berita yang dijadikan tema news feature itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Feature lead ditulis atraktif – Feature lead, sebagaimana tadi dikemukakan, lebih megnandalkan uraian yang atraktif untuk merebut perhatian pembaca. Pola penulisan feature lead tidak setegas pola penulisan news lead yang selalu berisikan inti cerita – berupa fakta paling penting atau fakta paling menarik – dan mendahulukan unsur what ataupun who (untuk hard news; dan mengutamakan unsur who, when, where, why ataupun how (untuk soft news). Bagaimana sebetulnya uraianyang atraktif? Itu sangat tergantung pada kemahiran penulis. Begitu banyak pilihan yang dapat dibuat asalakan pilihan itu dianggap kuat untuk mrebut perhatian pembaca atau membangkitkan minat orang untuk membaca. Walau begitu, ada beberapa jenis feature lead yang kerap dipergunakan wartawan dan dipandang cukup efektif dalam me bujuk khalayak untuk membaca sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. News summary lead&lt;br /&gt;News summary lead berisikan rangkuman inti masalah yang akan diceritakan. Contohnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Kelanjutan restrukturisasi perbankan belum jelas, demikian pula dengan hutang-hutang perusahaan besar. Pasar modal yang masih lesu, dibarengi oleh nilai US$ yang masih bertahan di atas Rp. 7.000. Dalam pada itu sebagian besar sector riil tetap teertidur. Para investor hingga kini masih menunggu kelanjutan pemulihan ekonomi Indonesia yang belum kunjung jelas arahnya……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Puncak-puncak persoalan dirangkum jadi satu untuk menunjukkan potret keadaan yang lebih menyeluruh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Picture lead&lt;br /&gt;Picture lead menyodorkan deskripsi kepada pembaca. Deskripsi tersebut dihadirkan dalam pikiran pembaca dengan harapan si pembaca membayangkan dirinya berada dalam suasana yang dideskripsikan itu, dan merasa ngeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Sunaryo bergntung erat-erat di tepi jendela dan tangan kanannya memeluk anaknya, Reni (4 tahun). Api sudah mulai menjilat kamarnya di lantai tiga. Ketika menunggu tangga pemadam kebakaran yang akan menolongnya dia lihat di bawah pagar besi yang ujungnya runcing-runcing siap menyambutynya jika pegangannya terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yang digambarkan selalu berupa situasi yang menegangkan, dan itulah yang diharapkan membangkitkan minat orang untuk membaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Descriptive lead&lt;br /&gt;Sama dengan picture lead, descriptive lead juga menyajikan deskripsi kepada pembaca. Tapi deskripsi yang disajikan tidak untuk membuat pembaca merasakan “takanan keadaan” yang digambarkan. Deskripsi itu hanya sekadar untuk mengantar imajinasi pembaca dalam membayangkan obyek (manusia, benda, alam, suasana) yang diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia termasuk orang pendiam. Pembawaannya tenang, dan senyumnya pun tergolong “mahal”. Tetapi pemuda berusia 25 tahun yang dikenal sebagai pekerja teliti dan kini menjadi manajer keuangan ini, bias akrab jika diajak berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Obyek yang diceritakan itu “dipotret/dilukiskan” dengan kata-kata sehingga mudah dibayangkan atau dikenali pembaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Analogy Lead&lt;br /&gt;Analogy lead menampilkan dua --- watak, suasana, dan sebagainya --- yang analog, atau setidak-tidaknya mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..Enam tahun yang lalu dia memulai usahanya, berdagang alat-alat elektronik di tempat itu dengan modal seadanya. Setelah semuanya musnah dalam kerusahan Mei tahun lalu, kini dia awali lagi usahanya itu dari nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kemiripan “modal seadanya” enam tahun yang lalu, dengan keadaan hari ini “dari nol”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi keadaan yang mirip itu tidak selalu harus dilihat dalam dimensi waktu, Analogi juga dapat diperlihatkan dalam cara lain, seperti contoh berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..Semua  pemain kesebelasan X merayakan kemenangan itu dengan pesta semalam suntuk di hotel.  Di kota Y kemenangan tersebut disambut para suporternya dengan berpawai keliling kota hingga pukul satu dinihari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Contrast lead&lt;br /&gt;Contrast lead adalah kebalikan dari analogy lead. Ia menampilkan dua hal (boleh jadi siaft, keadaan, nasib, profil manusia, dan sebagainya) yang bertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Mereka yang anam dan nomornya tercantum di daftar peserta yang lulus, tertawa, melonjak kegirangan, dan memberikan ucapan selamat satu sama lain. Sebagian besar lainnya, para remaja yang kemarin pagi tahu bahwa dirinya tidak lulus UMPTN meninggalkan tempat-tempat penumuman dengan wajah dingin. Beberapa diantaranya menitikkan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Keadaan yang kontras diperlihatkan untuk memikat perhatian pembaca).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Lead kutipan&lt;br /&gt;Ada beberapa feature lead yang dibuat dengan menyajikan kutipan. Tapi harus diingat bahwa kutipan yangdijadikan lead itu tidaklah kalimat sembarangan. Kutipan ersebut harus mengandung kekuatan )daya tarik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kutipan dari tokoh cerita.&lt;br /&gt;Kutipan yang diambil untuk menjadi lead berasal dari ucapan tokoh yang ada dalam feature yang ditulis. Tapi biasanya tidak banyak keterangan tokoh cerita itu yang layak dan cukup kuat untuk diangkat menjadi lead. Pad umumnya, ucapan yang memiliki “kekuatan” itu adalah ucapan yang mengundang kontroversi, demikian pula dengan ucapan yang mencerminkan emosi sang tokoh ketika berbicara, dan ucapan yang mencerminkan kepribadian si tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….”Kalau kwik gagal, semua WNI keturunan dipersalahkan, akan dimaki”, kata Sofjan Wanandi yang menyatakan Menko Ekuin Kwik Kian Gie harus didukung oleh semua WNI keturunan.&lt;br /&gt;(Mengundang kontroversi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teten Masduki itu manusia atau binatang”, kata Andi M. Ghalib menanggapi laporan Indonesia Corruption Watch yang menyebut dirinya terlibat KKN.&lt;br /&gt;(Menunjukkan emosi si pembaca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dikasih Rudy”, kata Lim Swie King beberapa saat setelah dia keluar sebagai juara tunggal putera turnamen All England tahun ini, semalam.&lt;br /&gt;(Mencerminkan kepribadian Swie King, low profile. Dia mengalahkan Rudy Hartono dalam partai final tunggal putera turnamen bulutangkis AllEngland dan kemenangan itu dia nyatakan sebagai pemberian Rudy kepada dirinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kutipan dan pribahasa&lt;br /&gt;Peribahasa memiliki daya tarik, baik kalau ia dikutip sebagaimana aslinya maupun jika ia “dipelesetkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…Air dari cucuran atas jatuhnya ke pelimbahan juga. Bing Slamet adalah tokoh panggung serba bias semasa hidupnya. Anak-anaknya, Uci, Adi dan Iyut, kini mengikuti jejak orang tuanya itu. &lt;br /&gt;(Peribahasa dikutip secara utuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setinggi-tinggi burung terbang, kembalinya ke katimin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Peribahasa yang asli berbunyi: “Setinggi-tinggi bangau terbang, kembalinya ke kubangan juga”. Feature lead pada contoh ini dipergunakan sebagai pembuka cerita tentang Katimin, seorang petani tambak di pantai utara Jawa Timur yang hidup “berkawan” dengan ribuan burung, dengan memelihara lingkungan tambak miliknya itu sebagai habitat uanggas tersebut. Karena usahanya ini, Katimin dinominasikan sebagai penerima Kalpataru, 1984). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kutipan dari ungkapan tokoh terkenal (filosof, pujnagga, penyair, negarawan, rasul).&lt;br /&gt;Isteri adalah gundik di masa muda, sahabat pada usia setengah baya, dan perawat di hari tua, begitu kata Francis Bacon. Dapatkah pengalaman Eny Kusrini membenarkan pendapat itu?) &lt;br /&gt;(Ungkapan Francis Bacon tentang bagaimana pada umumnya pria – suami – memnadang perempuan --- isteri --- dijadikan pembuka cerita tentang Eny Kusrini, penyanyi keroncong yang beberapa kali menikah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Lead menggoda&lt;br /&gt;Lead menggoda biasanya berupa uraian yang tidak jelas maknanya (membingungkan, mengundang tanda Tanya, memancing rasa ingin tahu. Itulah yang menjadi daya tarik lead tersebut. Tetapi harap berhati-hati, rasa ingin tahu pembaca tidak boleh terlalu lama dipermainkan. Artinya, pada paragraph kedua (di bawah lead) harus segera ada penjelasan, apa yang dimaksud oleh pragraf pertama yang maknanya menimbulkan tanda Tanya tersebut. Jika jawaban untuk tanda Tanya itu terlalu lama diulur, pembaca bias kehilangan selera untuk membaca.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidungnya ada seratus. Dia memiliki 300 kaki, 80 genderang, 25 seruling dan 25 terompet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lead untuk cerita tentang sebuah regu dreum band yang beranggotakan 100 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya seperti getuk, tapi membuatnya tidak ditumbuk, jika didekati baunya menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lead ini adalah paragraph pertama feature yang bercerita tentang crumbrubber, getah latek yang dibekukan, bahan pembuat karet. Getah latek yang dibekukan itu mirip getuk tapi baunya “minta ampun”. Daya tarik lead ini diperkuat pula oleh efek bunyi “uk” yang berulang tiga kali di dalam kalimat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Lead kalimat pendek&lt;br /&gt;Lead dari jenis ini ditulis betul-betul berupa satu kalimat pendek. Kalimat itu hendaknya menyatakan sesuatu dengan menonjolkan kata sifat. Kata sifat yang ditonjolkan secara tanggung itulah yang diharapkan mengundang orang untuk membaca paragraph selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serba merah&lt;br /&gt;Gordin di pintu dan jendela rumahnya merah. Di dinding ruang tamu tergantung sebuah lukisan abstrak cukup besar yang didominasi warna merah tua. VW Golf yang siang itu diparkir di depan garasi juga mengambil warna yang sama. “Merah bagi saya berarti semangat dan keberanian”, kata penyanyi dangdut yang namanya tengah melambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pada contoh ini, yang disebut lead hanyalah kata-kata “serba merah”. Uraian berikutnya adalah paragraph kedua yang menjelaskan maksud pernyataan kalimat pendek yang menjadi pembuka cerita tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Lead menuding&lt;br /&gt;Lead menuding adalah lead yang isi pernyataannya seperti menuduh pembaca. “Tuduhan” itulah yang diharapkan merangsang minat orang untuk membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda pikir anda sehat? Belum tentu. Setiap saat jika berada di jalan anda megnhirup udara beracun yang pada suatu saat bias jadi pembunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lead ini adalah pembuka feature yang akan bercerita tentang parahnya polusi udara, terutama oleh asap kendaraan bermotor yang membahayakan kesehatan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116615146244476717?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116615146244476717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116615146244476717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116615146244476717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116615146244476717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/12/kuliah-11.html' title='Kuliah 11'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116580158565030348</id><published>2006-12-11T08:43:00.000+07:00</published><updated>2006-12-11T08:52:22.250+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 10</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 10&lt;br /&gt;Penulisan Press Release (Siaran Pers)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat, ada kebutuhan untuk memberitahu khalayak tentang kejadian atau perkembangan baru, menyangkut institusi tempat kita (public relations) bekerja atau insitusi yang kita wakili kepentingannya (klien). Pada waktu yang lain, mungkin saja ada sesuatu yang baru yang harus diperkenalkan kepada orang banyak, boleh jadi produk baru mungkin pula suatu institusi yang baru dibentuk, peraturan yang baru diberlakukan, atau seseorang yang perlu diperkenalkan kepada publik. Bantuan wartawan dan medianya kerapkali dibutuhkan untuk meluruskan informasi yang tersiar secara resmi tetapi mengandung kekeliruan atau ketidakjelasan. Bahkan besar kemungkinan, bantuan wartawan dan media massa menjadi penting karena ada bantahan yang harus disiarkan setelah di lingkungan khalayak beredar informasi yang tersiar secara resmi namun sama sekali salah, atau membantah serta meluruskan rumor yang mengandung ketidakbenaran. Wartawan dan media massa sering juga “dipergunakan” sekadar untuk membuat agar publik tetap tahu akan keberadaan suatu insitusi, menjaga citra dan kredibilitas.&lt;br /&gt;Jadi, tujuan pembuatan siatan pers adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;· Memberitahu khalayak tentang kejadian atau perkembangan baru&lt;br /&gt;· Memperenalkan sesuatu yang baru kepada orang banyak&lt;br /&gt;· Meluruskan informasi yang tersiar secara resmi tapi mengandung kekeliruan atau ketidakjelasan.&lt;br /&gt;· Membantah atau meluruskan rumor yang mengandung ketidakbenaran&lt;br /&gt;· Membuat agar publik tetap tahu akan keberadaan suatu institusi, atau manjaga citra dan kredibilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh: (Lihat bahan fotocopy dari Soemirat)&lt;br /&gt;Penulisan press release ini menggunakan rumus Piramida Terbalik. Maksudnya bagian yang paling penting diletakkan di bagian awal tulisan. Semakin ke bawah semakin kurang penting isinya yang biasanya merupakan pelengkap berita utama saja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siaran Pers&lt;br /&gt;PEMBUKAAN ABN AMBRO BANDUNG  (Judul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1).  Paragraf 1: Pembukaan ABN ANBRO Bank (What) di Bandung (Where) dilakukan hari ini (15 Okt) (When) oleh Bapak Karma Swanda ata nama Gubernur Jawa Barat (Who) didampingi Duta Beasr Kerajaan Belanda dan Wakil Presdir ABN AMRO Bank untuk Asia, Australiadan Afrika.  Bank telah memberikan perangkat jasa-jasa perusahaan selama hampir satu tahun (Why), sekarang bank melayani perangkat penuh jasa-jasa perorangan dan peruahaan (How).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Paragraf pertama ini adalah LEAD (kepala tulisan) dari keseluruhan tulisan. Di dalamnya terkandung 5W + 1 H. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2).   Paragraf 2: ABN MRO Bank adalah salah satu bank. dstnya. . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Paragraf 3: Gedung bank yang baru di Jalan Jawa dstnya. . . . . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116580158565030348?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116580158565030348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116580158565030348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116580158565030348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116580158565030348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/12/kuliah-10.html' title='Kuliah 10'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116494626067611214</id><published>2006-12-01T11:05:00.000+07:00</published><updated>2006-12-01T11:11:01.856+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 9</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 9&lt;br /&gt;News Value -  Bernilai Berita&lt;br /&gt;Untuk mempertimbangkan apakah suatu peristiwa/masalah merupakan berita atau bukan (memiliki news value atau tidak) dan untuk mempertimbangkan tinggi rendahnya news value yang terkandung di dalamnya, yang perlu diukur ialah nilai penting dan sifat menarik peristiwa/masalah itu. Nilai “penting” dan menarik ini dapat ditakar dengan beberapa faktor, yang oleh jurnalistik disebut sebagai faktor penentu news value. Adakalanya, dalam sebuah peristiwa/masalah hanya terdapat satu factor penentu. Adakalanya pula beberapa faktor bergabung dalam satu peristiwa/masalah. Faktor-faktor tersebut ialah sbb:&lt;br /&gt;1.    Akibat. Tinggi rendahnya nilai penting suatu kejadian/masalah bagi publik dapat ditentukan dengan mempertimbangkan seperti apa, dan dirasakan siapa saja akibat yang ditimbulkan oleh suatu peristiwa atau akibat yang muncul dari suatu masalah. Kian luas publik yang terkena oleh akibat suatu kejadian/masalah. Kian tinggi news value peristiwa/masalah itu, dan kian kuat akibat tersebut dirasakan kian tinggi news value peristiwa/masalah itu. Contoh: Bencana alam Tsunami di Aceh atau Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur.&lt;br /&gt;2. Jarak. Jarak dapat diterjemahkan dalam pengertian geografis dan jarak dalam pengertian psikologis. Kian pendek jarak --- geografis maupun psikologis --- kian tinggi nilai penting atau menarik berita tersebut.&lt;br /&gt;Terbakar dan ditutupnya perkulakan Goro di Jl. Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dirasakan sebagai kejadian yang nilai beritanya lebih tinggi oleh masyarakat di sekitarnya dibandingkan oleh warga Yogyakarta. Kisah tentang warga keturunan Jawa di Suriname, bagi masyarakat Indonesia (terutama masyarakat Jawa) dirasakan bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan yang dirasakan masyarakat Singapura (karena jarak psikologis yang berbeda walau secara geografis jaraknya hampir sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Prominence. Kejadian/masalah layak jadi berita jika di dalamnya terlibat tokoh terkemuka atau terkenal, benda ataupun tempat yang dikenal orang secara luas.  Tokoh, benda ataupun tempat seperti itu selalu popular. Segala sesuatu yang popular selalu menarik bagi publik secara luas dan karena itu pula ikhwal apa pun tentang tokoh, benda ataupun tempat tersebut senantiasa mengundang perhatian orang banyak. Contoh: Peristiwa Bom Bali atau Terbunuhnya DR Azhari (teroris asal Malaysia) di Batu Malang, Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Drama. Kejadian-kejadian yang dramatik memiliki nilai berita karena ia mengandung daya tarik yang cukup tinggi. Boleh jadi suatu peristiwa tidak bersifat penting bagi publik, tetap ia menjadi menarik karena berlangsung secara dramatis. Contoh: Si A seorang pemuda pengangguran, bunuh diri dengan meminum racun serangga di kamarnya di Kemayoran. Si B, juga seorang pemuda pengangguran bunh diri dengan melompat dari lantai delapan sebuah gedung bertingkat di Jakarta Pusat. Kisah si B lebih dramatis daripada kisah si A oleh karena itu kisah si B akan lebih menarik untuk ditulis jadi berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Konflik. Konflik selalu menarik untuk didengar, diketahui dan dilihat wau untuk sebagian kadang-kadang ia menakutkan. Jika ada tetangga Anda perang mulut dengan tetangga lainnya, Anda pasti tergugah untuk melihat. Karena konflik selalu memiliki daya tarik, peristiwa yang mengandung konflik atau peristiwa yang berupa konflik mengandung news value dan dapat jadi berita. Lebih dari itu, konflik pada suatu ketika tidak hanya sekadar menarik, tetapi dapat mengandung kepentingan publik (misalnya perang, kasus Aceh, atau pun peristiwa kerusuhan di Ambon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keanehan atau Tidak Sebagaimana Biasa. Keanehan selalu menarik perhatian orang. Karena itulah kejadian atau segala sesuatu yang tidak wajar di sekitar kita layak jadi berita. Misalnya tentang Bayi kembar siam atau pisang berbuah mangga?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kebaruan. Peristiwa ataupun masalah yang mengandung sesuatu yang baru (gagasan, penemuan, perkembangan) layak jadi berita. Misalnya, penemuan alat pembangkit listrik hemat bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Keselamatan Pribadi atau Nasib Manusia. Manusia senantiasa peduli akan nasib dan peristiwa yang dialami manusia lainnya. Oleh karena itu, manusia selalu memberi perhatian pada nasib dan keselamatan manusia lainnya. Apabila keselamatan itu terancam, manusia lainnya akan terundang untuk mendengar atau mengetahui kisahnya. Keterancaman keselamatan manusia, seringkali tidak lagi sekadar bersifat menarik. Misalnya kasus lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Ia bahkan sudah menjadi peristiwa/masalah penting. Sebaliknya, nasib baik pun dapat menjadi bahan cerita. Media massa menulis kisah nasib mujur yang dialami seorang juru parkir di sebuah bank yang memenangkan undian – sebuah sedan – untuk para penabung di bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun dan institusi PR/hubungan masyarakat manapun yang ingin memanfaatkan jasa pers sebagai “partner” dalam menyampaikan informasi kepada khalayak sewajarnyalah memahami betul cara pandang jurnalistik sepereti yang dijelaskan diatas.  Bertolak dari situ pulalah press conference dapat direncanakan dan diselenggarakan. Dan dari situ pulalah press release dapat disusun dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116494626067611214?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116494626067611214/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116494626067611214' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116494626067611214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116494626067611214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/12/kuliah-9.html' title='Kuliah 9'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116434240907174329</id><published>2006-11-24T11:22:00.000+07:00</published><updated>2006-11-24T11:26:51.326+07:00</updated><title type='text'>Kulia 8</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Jurnalistik untuk Siaran Pers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis siaran pers dimulai dengan mempertimbangkan nilai berita (news value) kejadian ataupun masalah yang akan disiarkan. Karena siaran pers itu diharapkan dimuat --- paling tidak dikutip --- media massa., tentulah pengukuran news value yang dikenal dalam jurnalistik harus dipahami orang-orang PR/hubungan masyarakat yang membuat press release tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara mengukur nilai berita suatu peristiwa ataupun masalah yang dipakai oleh praktisi PR dan yang dipakai dunia pers, mungkin memang tidak akan pernah dapat disamakan. Tetapi tidak berarti bahwa kedua-duanya tidak dsaling mendekati. Bagaimanapun juga penulisan press release di samping mempertimbangkan kepentingan instituso yang mengeluarkan siaran pers itu, perlu disertai dengan kesadaran akan nilai berita bagi orang banyak dan hak-hak publik akan informasi yang benar, jelas dan jujur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diperlukan dalam hal ini adalah adanya kesadaran dan pemahaman yang baik di kalangan petugas PR tentang apa yang disebut sebagai “berita” oleh dunia jurnalistik. Dengan kata lain dapat disebutkan pertugas PR hendaknya dapat memahami cara pandang jurnalistik atau news concept dalam jurnalisme dalam memilih dan menyampaikan laporan untuk publik. Menyiapkan siaran pers dengan cara pandang seperti itu akan membuka peluang bagi keberhasilan upaya public relations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Cara Pandang Jurnalistik (News Concept)&lt;br /&gt;Peristiwa dan masalah – Jurnalistik senantiasa memperhatikan dua soal dalam mencari bahan untuk dipublikasikan kepada khalayak luas. Yang pertama adalah peristiwa dan yang kedua adalah masalah. &lt;br /&gt;Peristiwa adalah kejadian yang melahirkan kenyataan-kenyataan baru melalui proses yang relatif cepat, berlangsung dalam waktu pendek (melahirkan perubahan) dan kemudian selesai. Masalah adalah kenyataan yang tengah dihadapi masyarakat atau lingkungan sosial tertentu, hidup atau senantiasa ada dalam periode yang agak panjang dan dirasakan perlu mendapatkan perubahan (perbaikan) atau harus dipercahkan (diselesaikan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menerangkan segenap peristiwa/masalah kepada publik, jurnalistik (dan tentunya juga siaran  pers) mempergunakan fakta yang dapat dibuktikan keberadaan dan kebenarannya. Selain fakta empirik, jurnalistik juga mempergunakan gagasan atau ide yang menyangkut kenyataan yang ada itu sebagai isi laporan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penting dan Menarik – Suatu peristiwa maupun masalah akan layak menjadi bahan siaran pers jika peristiwa/masalah itu penting atau menarik bagi khalayak. Peristiwa/masalah itu menjadi penting bagi khalayak jika di dalamnya terdapat (terlibat) kepentingan orang banyak (publik). Suatu peristiwa maupun masalah dikatakan menarik jika peristiwa/masalah itu mengundang perhatian (rasa ingin tahu) orang banyak walaupun di dalam peristiwa/masalah itu sendiri tidak terkandung kepentingan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya apa yang penting dan menarik bagi khalayak senantiasa berubah dari masa ke masa dan berbeda antara suatu lingkup social dengan lingkup social lainnya. Masalah lingkungan hidup misalnya, setelah adanya kesadaran tentang itu (yang mulai bangkit tahun 1970-an) dan karena kian derasnya proses pengrusakan lingkungan itu sendiri, kian hari kian kuat keududukannya sebagai issue penting di tengah khalayak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116434240907174329?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116434240907174329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116434240907174329' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116434240907174329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116434240907174329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/11/kulia-8.html' title='Kulia 8'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116373703849268748</id><published>2006-11-17T11:12:00.000+07:00</published><updated>2006-11-17T11:17:19.056+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 7</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 7&lt;br /&gt;Tema: Jelas dalam Rumusan Kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat harus disiapkan sebagai susunan kata yang mudah dimengerti khalayak pembaca. Namun tidak ada batasan yang pasti tentang rumusan yang dimengerti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dapat disarankan hanyalah, susunlah kata-kata dalam struktur yang memenuhi tuntutan tata bahasa, dan bagian-bagian kalimat tersebut hendaknya dirangkai dalam untaian yang membawa pokok pikiran yang jernih serta logis. Jangan sampai pembaca harus membaca-ulang sebuah kalimat untuk dapat menangkap maknanya dengan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejernihan susunan itu sangat banyak ditentukan oleh jumlah ide (gagasan) yang disampaikan dalam kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jumlah gagasan di dalam kalimat&lt;br /&gt;Harold Evans, editor suratkabar The Sunday Times, London, membedakan kalimat – secara kasar – menjadi empat jenis, yaitu: simple sentence; compound sentence; complex sentence; compound-complex sentence. Untuk bahasa Indonesia, kalimat yang muncul dalam suratkabar dan majalah kita juga dapat dipecah menjadi empat jenis, seperti itu yaitu: kalimat sederhana; kalimat berinduk-beranak; kalimat yang agak rumit; dan kalimat yang rumit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat kalimat sederhana, batasilah ide yang disampaikan lewat kalimat tersebut. Penulisan kalimat-kalimat pendek akan menghindarkan orang (si penulis) dari perumusan kalimat yang tidak jernih, yang jika dibaca sulit dipahami artinya. Kalimat-kalimat seperti itu selalu mendatangkan kesukaran pada pembaca. Itu berarti menciptakan gangguan dalam komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat sederhana – yang hanya memiliki satu pokok, satu sebutan, atau satu pokok, satu sebutan dan satu keterangan – adalah bentuk yang mudah dipahami. Ia tidak perlu dibaca-ulang untuk memahmi apa yang ia maksud.  Berikut ini dapat dilihat perbedaan jumlah ide yang disampaikan lewat empat jenis kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..sederhana&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua masih beroperasi di Jakarta.&lt;br /&gt;….berinduk-beranak.&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an, hingga kini masih banyak beroperasi di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..agak rumit&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan tahun-tahun 1950-an, dan ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, masih banyak beroperasi di Jakarta, dan tetap vital sebagai sarana angkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..rumit&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan tahun-tahun 1950-an, dan malah ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, walau Jakarta sudah dijuluki kota metropolitas masih memegang peranan penting untuk angkutan dalam kota terutama bagi penduduk dari golongan menangah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungghnya, kalimat panjang yang rumit dapat dipecah menjadi beberapa kalimat pendek. Tetapi harus diingat bahwa ketika memecah satu kalimat yang terlalu panjang menjadi beberapa kalimat pendek, ada dua jebakan yang megnhadang.&lt;br /&gt;Pertama, adalah untuk menyampaikan ide yang sama, kita terpaksa menggunakan kata dalam jumlah yang lebih banyak. Itu berarti terjadi pemborosan kata yang juga harus dihindari dalam jurnalistik. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….satu kalimat amat rumit yang terdiri dari 44 kata.&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an, dan malah ada yang terseok-seok jika lari di jalan, hingga kini, walau Jakarta sudah dijuluki sebagai kota metropolitan, masih memegang peranan penting untuk angkutan dalam kota, terutama bagi penduduk dari golongan menangah ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….lima kalimat amat rumit, terdiri dari 57 kata&lt;br /&gt;Oplet-oplet tua yang dibuat dari mobil bikinan 1950-an (1). Ada diantaranya yang bagaikan terseok-seok jika lari di jalan (2). Tetapi hingga kini ia masih banyak beroperasi di Jakarta, padahal Ibukota sudah dijuluki sebagai kota metropolitan (3). Untuk angkutan dalam kota oplet-oplet itu masih memegang peranan penting (4), Ia sangat berarti, terutama bagi penduduk dari golongan menengah ke bawah (5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalimat Inversi (Kalimat Terbalik)&lt;br /&gt;Kalimat inversi adalah kalimat yang dalam menyampaikan gagasan terasa kurang lancar.  Oleh karena itu hindarilah kalimat inversi. Bentuk pertama adalah inversi dan bentuk kedua tidak inversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….Timor Timur situasi keamanannya amat mencemaskan.&lt;br /&gt;….Situasi keamanan Timor Timur amat mencemasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..Amat mencemaskan situasi keamanan Timor Timur&lt;br /&gt;…..Situasi keamanan Timor Timur amat mencemaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kalimat aktif dan kalimat pasif&lt;br /&gt;Untuk laporan jurnalistik, disarankan agar lebih mengutamakan pemakaian kalimat aktif diabandingkan dengan kalimat pasif. Contoh:&lt;br /&gt;….pasif&lt;br /&gt;Pengurangan produksi trsebut diputuskan manajemen dalam rapat tahunan akhir November yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;….aktif&lt;br /&gt;Manajemen memutuskan pengurangan produksi tersebut dalam rapat tahunan akhir November yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kalimat positif dan kalimat negatif&lt;br /&gt;Jurnalistik juga menyarankan agar sedapat mungkin kita menghindari pemakaian kalimat negatif (kalimat menidakkan), dan mengutamakan kalimat positif (kalimat berita). Contoh:&lt;br /&gt; ……negatif&lt;br /&gt; Anggota satpam itu tidak ingat bahwa pintu gudang belum dikunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ……positif&lt;br /&gt; Anggota satpam itu lupa bahwa pintu gudang belum dikunci. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Hindari irama yang monoton&lt;br /&gt;Jika beberapa kata yang sama bunyinya berada dalam satu kalimat akan timbul gangguan terhadao irana tulisan. Gangguan itu memang tidak mencolok. Akan tetapi kalau gangguan seperti itu ditiadakan, kalimat yang ditulis akan lebih hidup. Contoh:&lt;br /&gt;…..Karena dia memang suka sekali dengan gudeg, kali ini gudeg itulah yang dipesannya untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diubah menjadi:&lt;br /&gt;…..Karena dia memang suka sekali dengan gudeg, kali ini makanan khas Yogyakarta itulah yang dipesannya untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kutipan dan paraphase&lt;br /&gt;Dalam menulis untuk media massa, kita hanya mempergunakan dua macam kalimat. Pertama adalah paraphase yaitu kalimat-kalimat yang isinya ada;lah cerita si penulis sendiri berdasarkan fakta yang dia ketahui. Yang kedua adalah kalimat kutipan, yaitu kalimat yang sebetulnya dinyatakan oleh narasumber atau sumber, dan ditulis ulang oleh sipenulis dengan menyebutkan secara jelas siapa yang menjadi sumber kalimat terebut.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Umpamakan Anda mewawancarai si X dan Tanya-jawab pun berlangsung.&lt;br /&gt;A. Sejak kapan anda mengoleksi radio kuno ini?&lt;br /&gt;X.  Sudah delapan tahun yang lalu&lt;br /&gt;A. Jumlah koleksi anda berapa banyak?&lt;br /&gt;X.  Semuanya ada 47 radio&lt;br /&gt;A. Yang paling tua?&lt;br /&gt;X.  Yang paling tua radio buatan tahun 1938.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil wawancara tersebut kemudian diolah menjadi sebuah cerita. Kira-kira akan menjadi sbb:&lt;br /&gt;Bapak X mulai menjadi kolektor radio kuno delapan tahun lalu. Kini dia memiliki 47 radio tua. “Yang paling tua adalah radio buatan tahun 1938”, katanya dengan suara berat dan aksen Jawa Timur yang kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Jangan dipakai kata berbunga-bunga.&lt;br /&gt;Kendati dewasa ini dikenal istilah “jurnalistik sastra”. Tidaklah berarti penggunaan bahasa dalam jurnalistik harus seperti pemakaian bahasa untuk novel. Bahasa yang terlalu berbunga-bunga tidak menjadi kebutuhan jurnalistik, apalagi untuk news. Sungguhpun begitu, bahasa yang kaku, arus cerita yang tersendat-sendat dan monoton harus dihindari.&lt;br /&gt;Contoh berikut ini memperliohatkan bagaimana fakta dipakai untuk melukiskan keadaan (deskripsi), dan bagaimana pemilihan kata-kata untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…..Satu hektar sawah di Cileban hanya mampu membuahkan delapan kuintal padi yang dipanen sekali dalam setahun dan 12 kuintal jagung untuk dua kali panen. Tahun 1977 yang lalu, 80% padi penduduk digulung wereng. Waktu itu hama sudah terlihat tiga minggu setelah bertanam. Untuk membasminya diperlukan uang Rp. 4.000 per hektar sawah dan warga Cileban yang tak pernah menikmati kredit macam apa pun sama sekali tak memerangi hama itu. Wereng yang sudah tampak pada bibit yang mereka semai tahun ini. Juga tidak disingkirkan. Awal April yang lalu, musim bertanam, bibit itu diangkut ke sawah bersama hamanya. Wereng pun “ditanam” bersama bibitnya…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Jangan sampai ada istilah yang keliru, tidak tepat dan “tidak kena”.&lt;br /&gt;Sering kita temukan di dalam media cetak maupun elektronik penggunaan istilah yang keliru. Boleh jadi itu disebabkan oleh ketidfakpahamaman penulis tentang makna kata yang dipakainya.&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;….Keluarga Kusnadi bertempat tinggal di Jl. Pecenongan 48, Rabu dinihari sekitar jam 01.00 pagi dibunuh oleh tiga orang lelaki pegawainya sendiri. Dalam peristiwa itu Kusnadi meninggal, sedangkan istrinya dan anaknya selamat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “keluarga dibunuh” tidak masuk akal sehat sebab yang mati hanya 1 orang dari keluarga tersebut. Jadi tidak logis. Yang betul adalah “keluarga Kusnadi dianiaya”, Kusnadi tewas sedangkan isteri dan anaknya selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116373703849268748?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116373703849268748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116373703849268748' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116373703849268748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116373703849268748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/11/kuliah-7.html' title='Kuliah 7'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116312732686556268</id><published>2006-11-10T09:51:00.000+07:00</published><updated>2006-11-10T09:55:30.850+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 6</title><content type='html'>MATA KULIAH DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi dan Pemakaian Istilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalistik menuntut adanya kejaelasan istilah yang dipilih dalam membuat komposisi sebuah paragraph guna menghindari keragu-raguan orang dalam memhami makna kata dan untuk mempercepat diperolehnya pengertian oleh khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 5 (lima) hal yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;1. Pemakaian istilah asing. Istilah asing hanya dapat dimengerti oleh kalangan masyarakat tertentu saja dan sangat terbatas. Akibatnya banyak pembaca tidak memperoleh kejelasan ketika menemukan istilah asing tersebut di dalam laporan yang mereka baca, jika istilah itu tidak disertai dengan penjelasan.&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa istilah asing yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan diyakini sudah dipahami oleh khalayak.&lt;br /&gt;Efisien&lt;br /&gt;Teknologi&lt;br /&gt;Parallel&lt;br /&gt;Diameter&lt;br /&gt;Komputer&lt;br /&gt;Arogan&lt;br /&gt;Sensasi&lt;br /&gt;Emosional&lt;br /&gt;Alternatif&lt;br /&gt;Ekonomi&lt;br /&gt;Bisnis&lt;br /&gt;Konflik&lt;br /&gt;Legisslatif&lt;br /&gt;Delegasi&lt;br /&gt;Flora dan fauna&lt;br /&gt;Dsbnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi sering pula kita menemui istilah asing digunakan begitu saja oleh media yang diyakini belum banyak dimerngerti oleh masyarakat, padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indoensia. Misalnya:&lt;br /&gt;All out    habis-habisan&lt;br /&gt;Clean government  pemerintahan yang bersih&lt;br /&gt;Relax    santai&lt;br /&gt;Approach   pendekatan&lt;br /&gt;Garment   pakaian jadi&lt;br /&gt;Policy    kebijaksanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagainya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula istilah yang sudah lama muncul dalam khasanah media massa kita, namun belum ada padanannya yang pendek dan tepat dalam bahasa Indonesia. Misalnya:&lt;br /&gt;After shave lotion   lotion muka pria sehabis cukur. &lt;br /&gt;Smash     pukulan&lt;br /&gt;Backhand drive   ?&lt;br /&gt;Debt service ratio   ?&lt;br /&gt;Retail investor    ?&lt;br /&gt;Right issue    ? (melepas saham)&lt;br /&gt;Dan sebagainya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemakaian akronim dan singkatan&lt;br /&gt;Akronim dan singkatan adalah fenomena lain dalam penggunaan istilah dalam bahasa jurnalistik. &lt;br /&gt;Singakatan dengan menggunakan huruf pertama dari kata, seperti:&lt;br /&gt;Tentara Nasional Indonesia   TNI&lt;br /&gt;Bank Indonesia     BI&lt;br /&gt;Universitas Islam Indonesia   UII&lt;br /&gt;Dewan Perwakilan Rakyat   DPR&lt;br /&gt;Unidentified Flying Object   UFO&lt;br /&gt;Republik Indonesia    RI&lt;br /&gt;Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula singkatan (akronim) yang dibentuk tanpa aturan yang sudah lama berlaku. Misalnya:&lt;br /&gt;PE-MI-Lihan U-mum    PEMILU&lt;br /&gt;Ju-JUR dan a-DIL    JURDIL&lt;br /&gt;JU-Ru KAM-pa-nye    JURKAM&lt;br /&gt;Wa-KIL PRE-Si-den    WAPRES&lt;br /&gt;pe-ne-LI-T-ian dan pe-ngem-BANG-an LITBANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemakaian eufemisme (pelembutan makna kata)&lt;br /&gt;Eufemisme atau pelembutan makna kata adalah bentuk sopan santun dalam berbahasa. Eufemisme ada dalam hampir semua bahasa. Jika dengan mempergunakan suatu istiulah pemakai bahasa merasa kurang sopan, maka dia akan memilih katya lain yang maknanya dilembutkan. Contoh:&lt;br /&gt;Kecing    buang air kecil&lt;br /&gt;Ke WC    ke belakang&lt;br /&gt;Sakit    tidak enak badan&lt;br /&gt;Gila    kurang waras&lt;br /&gt;Dan sebagainya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula eufemisme yang direkayasa untuk tujuan politis. Conthnya adalah:&lt;br /&gt;Harga dinaikkan  harga disesuaikan&lt;br /&gt;Ditahan    diamankan&lt;br /&gt;Demonstrasi   unjuk rasa&lt;br /&gt;Kelaparan   kurang makan&lt;br /&gt;Pelacur    pekerja seks komersial&lt;br /&gt;Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Permakaian kata yang spesifik&lt;br /&gt;Kata-kata dapat disusun dalam satu jenjang abstrak berdasarkan pengertian yang dikandung kata itu. Istilah yang mengandung pengertian umum, luas, adalah kata-kata yang atergolong pada abstraksi tinggi. Contoh: senjata – senjata tajam – pisau – belati, Cap Garpu.&lt;br /&gt;Senjata adalah kata yang memiliki makna dalam tingkat abstraksi tinggi (ia dapat berupa senapan, pistol, meriam, peluru kendali, katapel, panah, tombak dsb.). “Senjata tajam” memiliki makna yang lebih sempit , lebih khusus dan tingkat asbstraksinya lebih rendah dari senjata (misalnya pisau, golok, pedang, tombak).”Pisau” menduduki tingkat abstraksi yeng lebih rendah lagi dari “senjata tajam” dan membawa makna lebih spesifik (ia hanya berupa sangkur, belati, pisau dapur, pisau cukur dsb). “Belati” mengandung makna lebih jelas dan anak tangga abstraksinya lebih rendah dari “pisau”. Dan “pisau cap garpu” tidak lagi dapat diartikan lian selain dari belati yang oleh pabriknya diberi cap dagang gambar garpu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bahasa jurnalistik dan juga untuk press release, pakailah kata-kata yang anak tangga abstraksinya rendah. Itu berarti, jangan dipakai kata-kata yang mengandung makna luas, umum, dan belum tegas. Penulis untuk media massa dituntut agar menggunakan kata yang spesisifik. Perhatikan contoh beriut:&lt;br /&gt;· Dalam perundingan itu dibahas hubungan kedua negara. &lt;br /&gt;· Dalam perundingan itu dibahas hubungan ekonomi kedua negara.&lt;br /&gt;· Dalam perundingan itu daibahas hubungan dagang kedua negara&lt;br /&gt;· Dalam perundingan itu dibahas masalah ekspor pakaian jadi Indonesia ke Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemakaian istilah yang ekspresif&lt;br /&gt;Untuk menarik perhatian pembaca, kadang-kadang diperlukan istilah yang ekspresif dalam membawa pegnertiuan. Contoh:&lt;br /&gt;· Tembakan terdengar dua kali dan pemuda itu jatuh ke aspal.&lt;br /&gt;· Tembakan terdengar dua kali dan pemuda itu rubuh ke aspal&lt;br /&gt;· Tembakan terdengar dua kali dan pemuda itu tersungkur ke  aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata rubuh lebih ekspresif daripada kata jatuh dan kata tersungkur jauh lebih ekspresif daripada kata rubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116312732686556268?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116312732686556268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116312732686556268' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116312732686556268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116312732686556268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/11/kuliah-6.html' title='Kuliah 6'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116098407765966721</id><published>2006-10-16T14:33:00.000+07:00</published><updated>2006-10-16T14:34:39.156+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 5</title><content type='html'>DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH &lt;br /&gt;PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 5&lt;br /&gt;Tema: “Jangan Bunuh Potensi Menulismu dengan Berbagai Alasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seseorang yang belum pernah mencoba menulis, biasanya kita mendengar berjuta alasan yang dikemukakan untuk menolaknya. Coba kita simak alasan-alasan berikut ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saya Tidak Punya Waktu&lt;br /&gt;Ungkapan itu sebenarnya berbahaya. Anda mengatakan tidak punya waktu karena mengejar dan menyelesaikan berbagai hal dalam pekerjaan, karir dan cita-cita. Bagaimana mungkin Anda tidak punya waktu untuk sesuatu yang dapat membantu terwujudnya semua itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin, waktu Anda yang tersita habis selama ini justru disebabkan karena kekurangoptimalan Anda dalam membaca, mendengar, berbicara dan menulis. Dan menulis, ibarat “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Dengan menulis, Anda memperbaiki dan meningkatkan kualitas Anda dalam membaca, mendengar dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, ada banyak cara yang bisa membantu Anda dengan berbagai hal yang dapat menghemat waktu berharga Anda seperti, teknik wawancara, teknik ghost writing, teknik asistensi dan riset, dan berbagai teknik lain sesuai kesepakatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Saya Tidak Berbakat Menulis&lt;br /&gt;Sekali lagi, ungkapan Anda berbahaya. Anda tidak semestinya membangun tembok-tembok bagi pengembangan pribadi Anda sendiri dengan tidak membuka pintu dan peluang baru yang mencerahkan masa depan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kasus, berbagai media yang ada seringkali dibangun dan dikembangkan oleh orang-orang teknis yang SAMA SEKALI tidak berlatar belakang dunia tulis-menulis. Para kontributor mereka pun demikian. Itu sebabnya media-media itu tidak melulu berpaling pada orang-orang dari dunia jurnalistik. ANDALAH orang yang paling tepat untuk menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anda adalah jurnalis.&lt;br /&gt;Tidak ada yang bisa menjanjikan bahwa tulisan Anda akan fenomenal. Tapi siapapun bisa menjamin bahwa tulisan Anda bisa diperbaiki menjadi sesuatu yang lebih menguntungkan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicamkan bahwa kita Tidak Boleh Menggunakan Nama Perusahaan dalam Menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda boleh memilih untuk anonymous. Anda bisa menggunakan nama “Si Keren Ujang” misalnya, dan jika tulisan Anda sudah mulai diminati, maka cepat atau lambat “Si Keren Ujang” akan identik dengan nama Anda sendiri. Ingatlah bahwa menulis adalah investasi dan kesempatan itu sering diberikan dengan free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bidang Saya Tidak Terkait dengan Apa yang harus Ditulis.&lt;br /&gt;Hampir semua bidang menjadi aspek mendasar dalam kehidupan setiap masyarakat dan bangsa. Profesi Anda juga pasti bisa dikaitkan ke sana. Oleh karena itu dunia tertentu bisa ditinjau dari segala aspek dan profesi yang ada. Anda bisa memandangnya dari segi hukum, seni, ekonomi, manajemen, sumber daya manusia, sosiologi, psikologi, pertanian, peternakan, perikanan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda ungkapkan saja ide-ide yang Anda punya sesuai bidang Anda, mereka akan membuatnya menjadi wacana. Anda bahkan cukup berbicara tentang dunia Anda, merekalah yang akan membumbuinya dengan aspek bidang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Saya Pernah Menulis dan Ditolak&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, apa yang dilakukan adalah bukan penolakan. Media sangat memahami bahwa setiap pemikiran dan ide semestinya bisa diungkapkan dan dirilis kepada publik. Hanya saja seringkali mereka dengan terpaksa harus mendahulukan tulisan yang siap rilis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda hanya ditantang untuk bersaing, tulisan Anda atau tulisan orang lain. Itu saja. Ada media yang mungkin siap mengolah kembali tulisan Anda dari keadaan seadanya dan menjadikannya alat investasi bagi Anda. Sebab, mereka memahami bahwa dunia di luar sana amat membutuhkan buah pikir Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kompensasinya Masih rendah&lt;br /&gt;Tergantung cara pandang dan orientasi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tidak Bisa Menuangkan Ide&lt;br /&gt;Hampir semua media mengembangkan berbagai cara untuk bisa menjadi wadah bagi aliran ide dan pemikiran Anda. Pada prinsipnya, mereka akan mencoba berbagai hal untuk bisa menangkap ide Anda. Bila perlu, mereka menerapkan metode wawancara atau ghost writing. Yang penting, Anda punya sesuatu yang juga penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Saya Nggak PD&lt;br /&gt;Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menaikkan PD Anda secara elegan dan profesional. Justru karena itulah Anda harus menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Saya Sudah Menulis di Tempat Lain&lt;br /&gt;Yakinlah tidak ada satu media pun yang melarang seorang penulis untuk menulis di media lain. Setidaknya hal itu bisa ditengahi dengan berbagai kesepakatan. Mereka tidak ingin melakukan hal itu. Anda bebas menulis di media lain. Mereka hanya beranggapan bahwa mereka adalah salah satu media dari semua media yang ada, dan mereka amat memahami fokus dan keunikannya masing-masing sebagai sebuah media. Yang jelas, dengan menulis Anda sudah menambah nilai plus bagi personal branding Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Saya Adalah Penulis Buku dan Bukan Penulis Artikel Pendek&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, Anda mungkin punya ide atau gagasan yang tidak cukup panjang dan dalam untuk dijadikan sebuah buku. Atau sebaliknya, sebuah buku Anda bisa Anda sarikan dalam bentuk yang lebih pendek berupa artikel. Ini berarti promosi bagi buku Anda sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk menulis artikel cenderung lebih singkat. Sementara itu, kontak Anda dengan pembaca cenderung bisa lebih ditingkatkan frekuensinya. Ini akan sangat menguntungkan bagi buku-buku Anda di masa depan. Dan jika Anda cukup sering menulis, koleksi artikel Anda itu bisa Anda jadikan buku di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Saya Tidak Menguasai Aturan Main di Bidang Itu&lt;br /&gt;Mungkin Anda benar. Akan tetapi, dengan sedikit menggali Anda pasti bisa meyakini bahwa Anda adalah satu dari sedikit orang yang memahami aturan mainnya – apapun bidang itu. Artinya, pemikiran Anda tetap dibutuhkan oleh banyak orang yang jauh lebih awam daripada Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Media Itu Tidak Blak-Blakan&lt;br /&gt;Ini adalah kendala yang dihadapi setiap media selama hidupnya. Visi dan misi setiap media mengharuskan mereka berdiri pada posisi yang netral dengan asumsi bahwa posisi ini akan memberi manfaat yang lebih besar bagi semua sistem dan budaya serta bagi semua khalayak yang terlibat di dalamnya. Pada prinsipnya, setiap media harus mengungkapkan apa adanya, namun demikian hal itu harus dilakukan dengan bijaksana tanpa dikotori oleh unsur SARA misalnya. Adalah tanggung jawab mereka untuk mengungkapkan sesuatu yang blak-blakan dalam cara yang lebih konstruktif, Anda tetap bisa berbicara blak-blakan. Namun Anda harus memahami, bicara blak-blakan yang tidak disertai dengan kebijaksanaan akan lebih destruktif sifatnya. Oleh karena itu, banyak media lebih memilih pendekatan yang bijaksana, sistemik dan ilmiah. Ini saatnya rekonsiliasi dan bukan saling menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Saya Lebih Suka Menulis Fiksi&lt;br /&gt;Ada yang sudah menyediakan tempatnya, dan mereka akan mencoba mentransformasikan ide dan gagasan Anda ke dalam “format mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Tidak Ada Komputer untuk Menulis&lt;br /&gt;Anda tidak bisa beralasan seperti itu. Banyak media juga menerima kontribusi dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan, ada juga yang menerima ide dan gagasan dalam bentuk suara atau gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Sudah Terlambat bagi Saya untuk Menulis&lt;br /&gt;Tidak. Inilah saatnya di mana Anda bisa menuangkan segala ide dan gagasan Anda demi masa depan diri sendiri dan demi masa depan bangsa ini. Jika Anda sebagai ahlinya tidak mau berbicara, maka segala cita-cita termasuk cita-cita pribadi Anda, akan terkendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Raihlah tingkatan tertinggi dalam kemampuan profesi. Jadilah orang yang eksak. Bicaralah kepada yang sudah mati, kepada yang tidak hadir dan kepada yang belum lahir. Apapun profesi Anda, Anda harus mulai menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis sesungguhnya tidaklah dapat disamakan seperti proses mengoplos minyak tanah dan solar atau minyak tanah dan oli atau bensin dan air yang bisa saja dianggap ilegal jika diperjualbelikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab menulis adalah proses olah pikir dan olah rasa yang dituangkan menjadi satu gagasan yang utuh untuk disampaikan kepada halayak pembaca yang dituju terlepas dari mana pun sumber gagasan tadi diperoleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi meskipun menulis itu terkadang merangkum dari berbagai tulisan orang lain dari berbagai sumber atau referensi–yang sebelumnya telah mengalami proses telaah dan pengendapan baru dituliskan—ini tidak lantas menyebabkan seorang penulis disebut bertindak ilegal dan lantas sah disebut sebagai “tukang oplos” atau ”intelektual gadungan” sebagaimana mengacu kepada istilah yang dipakai R. Toto Sugiharto dalam tulisannya “Penulis: Tukang Oplos atau Intektual Gadungan” (Jawa Pos, 15/1) dan mendapatkan tanggapan dari Pradana Boy ZTF dalam tulisannya “Benarkah Semua Penulis Tukang Oplos?” (Jawa Pos, 26/2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kaidah dalam menulis, terlebih lagi dalam penulisan-penulisan karya ilmiah, sehingga penulis tidak perlu merasa tidak intelelek meskipun tulisannya mengutip pendapat orang lain dan kemudian dikembangkannya sesuai dengan pemahaman dan penalarannya berikut hasil analisanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu bermunculanlah buku-buku panduan yang dapat dijadikan pedoman penulisan tentang bagaimana mengutip/mencuplik dari berbagai sumber berbentuk buku, jurnal, majalah dan bahkan koran serta karya-karya yang tidak dipublikasikan. &lt;br /&gt;"Hanya ada satu jalan untuk meningkatkan kemampuan menulis, yaitu menulis. Apa saja. Dan “Jangan Bunuh Potensi menulismu dengan Berbagai Alasan”."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat Idul Fitri 1427H, Minal Aidin Walfaidin, Maaf Lahir Batin”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116098407765966721?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116098407765966721/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116098407765966721' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116098407765966721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116098407765966721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/10/kuliah-5.html' title='Kuliah 5'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-116037684584784168</id><published>2006-10-09T13:51:00.000+07:00</published><updated>2006-10-12T09:38:22.386+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 4</title><content type='html'>DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH &lt;br /&gt;PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 4&lt;br /&gt;Tema: &lt;br /&gt;"Tuntutan Dunia Kerja: Kemampuan Menulis Terpenting diantara 22 Keahlian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1993, Olsen Corp. – sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja – melakukan sebuah survey yang menunjukkan bahwa 80% dari 443 pegawainya memerlukan pelatihan khusus untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai studi menunjukkan bahwa sepertiga dari kantor akuntan publik di Amerika ternyata tidak puas terhadap kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh para akuntan baru. Salah satu dari studi itu menunjukkan bahwa kemampuan menulis yang buruk ternyata memiliki peran sebagai penyebab para akuntan entry-level kehilangan pekerjaannya (Kim, “Accountants as Communicators,” Trusted Professional, edisi Desember 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 19 karakteristik yang dipersyaratkan recruiter kantor akuntan publik, teridentifikasi bahwa kemampuan menulis menempati urutan kelima paling penting sebagai karakteristik penentu dalam penyaringan awal calon akuntan baik di kampus-kampus maupun dalam proses interview. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis memiliki ranking yang lebih tinggi dari pada kemampuan teknis, keanggotaan dalam Beta Alpha Psi, pengalaman kerja dan reputasi almamater (Moncada dan Sanders, “Perceptions in the Recruiting Process,” CPA Journal, edisi Januari 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 22 macam keahlian yang dianggap kritis dalam bisnis dan ekonomi, praktisi akuntansi me-ranking kemampuan komunikasi tertulis sebagai keahlian yang paling penting untuk dikembangkan di lingkungan mahasiswa (Albrecht dan Sack, “Accounting Education: Charting the Course through a Perilous Future” Agustus, 2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sebuah survey dari majalah Fortune 500, para senior tax executives menemukan bahwa kemampuan menulis adalah termasuk atribut yang paling penting dalam proses perekrutan (Paice dan Lyons, “Addressing the People Puzzle,” Financial Executive, edisi September 2001).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis yang sempurna secara jelas membedakan high performers dalam bidang konsultasi perpajakan dari orang-orang yang semata-mata menginterpretasikan dan menerapkan aturan perpajakan (Sherrie Winokur, Tax Partner, Pricewaterhouse Coopers.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah survey dilakukan oleh suatu tim dari Southern Utah University terhadap 90.000 anggota AICPA (American Intitute of Certified Public Accountants) dan IMA (Institute of Management Accountants). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 2.181 respon yang masuk seluruhnya menunjukkan bahwa “writes well” – kemampuan menulis yang baik - adalah satu dari tujuh keahlian yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap akuntan khususnya di tingkat entry level. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam atribut lainnya, ternyata juga kembali pada faktor pentingnya kemampuan menulis yaitu kemampuan mendengar secara efektif, kemampuan menggunakan tata bahasa yang baik dalam berbicara dan menulis, kemampuan membuat dokumen dengan ejaan yang tepat, kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat saat berhadapan dengan klien, kemampuan untuk mengorganisir informasi ke dalam kalimat dan paragraf, dan kemampuan untuk menggunakan vocabulary bisnis dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;National Commission on Writing di Amerika Serikat (beranggotakan lebih dari 4.300 sekolah dan perguruan tinggi) mengungkapkan beberapa hal berkaitan dengan perlunya “revolusi dalam menulis” sebagaimana disarikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grammar atau tata bahasa, retorika dan logika adalah dasar-dasar yang membangun proses real learning dan self-knowledge. Artinya, semua itu adalah dasar bagi pengembangan proses belajar yang nyata dan bagi pengembangan karir pribadi seseorang. Kemampuan untuk mengatakan sesuatu secara benar, baik dan masuk akal adalah nilai dasar bagi dunia pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, menulis dengan baik adalah sebuah kemampuan yang tidak boleh ditinggalkan atas dasar tiga pilar utama sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, aktivitas menulislah yang telah mengubah dunia. Berbagai revolusi di dunia dimulai dari menulis. Dalam banyak hal, menulis telah meningkatkan taraf hidup manusia secara keseluruhan, apapun bidang yang dirambahnya. Dalam faktanya, segala hal yang menekan dan terjadi dalam sejarah selalu mendorong orang untuk kembali ke tinta dan alat tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, aktivitas menulis secara nyata telah terbukti memperkaya kehidupan politik setiap negara. Para pemimpin besar telah memadukan unsur kekuatan dan persuasi yang bisa mendorong orang melihat berbagai hal dari sudut-sudut baru yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah menggunakan kekuatan kata, bahasa dan tulisan untuk mengingatkan kembali perlunya berbagai standar yang lebih tinggi guna mencapai kesejahteraan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menulis ternyata juga bisa mengungkap secara sangat mendalam berbagai hal yang seringkali orang tidak melihatnya. Padahal, semua hal yang tadinya tak terlihat itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis adalah sesuatu yang lebih jauh dan dalam dari sekedar menguasai tata bahasa dan tanda baca. Menulis adalah sebuah proses yang dapat mengembangkan kemampuan dalam berpikir dinamis, kemampuan analitis dan kemampuan membedakan berbagai hal secara akurat dan valid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis bukan hanya sebuah cara untuk mendemonstrasikan apa yang telah diketahui, lebih dari itu menulis adalah cara untuk memahami apa yang telah diketahui. Menulis akan meningkatkan rasa percaya diri, dan rasa percaya dirilah yang akan memunculkan berbagai kreatifitas dan rasa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat pribadi yang bisa diperoleh dengan menulis adalah:&lt;br /&gt;1. Koneksi dan jaringan untuk kepentingan karir;&lt;br /&gt;2. Pengetahuan yang lebih mendalam;&lt;br /&gt;3. Motivasi personal dan sosial yang meningkat;&lt;br /&gt;4. Financial reward;&lt;br /&gt;5. Kredit akademis;&lt;br /&gt;6. Hubungan dengan dunia ilmu yang tak terputus. Ingatlah bahwa ilmu selalu berubah dan berkembang, demikian juga berbagai aturan main dalam dunia usaha, baik aturan formal seperti hukum perpajakan maupun aturan main dalam bisnis;&lt;br /&gt;7. Kemampuan yang lebih baik dalam bekerja secara tim (team work);&lt;br /&gt;8. Kemampuan yang lebih baik dalam aspek komunikasi yang lain seperti membaca, mendengar dan berbicara;&lt;br /&gt;9. Peningkatan dalam kemampuan presentasi;&lt;br /&gt;10. Peningkatan percaya diri dan personal branding. Anda menaikkan status dan posisi personal branding dan corporate branding Anda dengan cara yang elegan dan tanpa biaya. Ingatlah bahwa di era sekarang, personal branding adalah hal yang penting.&lt;br /&gt;11. Profesional plus. Nilai plus-lah yang bisa memperpanjang karir Anda dan membantu mencapai berbagai harapan dan cita-cita;&lt;br /&gt;12. Anda telah membuka pintu-pintu baru bagi masa depan Anda dengan lebih baik, apapun konsepsi Anda tentang masa depan itu. Anda mulai membangun rumah-rumah baru bagi masa depan Anda sendiri;&lt;br /&gt;13. Anda siap dengan berbagai argumentasi dan analisis akurat di semua bidang;&lt;br /&gt;14. Anda menjalani profesi Anda dengan lebih baik dan dengan masa depan yang lebih baik. Itu pasti;&lt;br /&gt;15. Anda sudah mulai membenahi apa-apa yang sudah Anda pelajari sejak kecil dengan bersusah payah dan sempat tersia-sia. Dengan demikian, Anda akan memiliki kemampuan yang seimbang dalam mengembangkan diri dan profesi. Anda akan mampu, survive dan sukses dengan personal branding yang kuat;&lt;br /&gt;16. Ini adalah KESEMPATAN bagi Anda untuk BERINVESTASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-116037684584784168?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/116037684584784168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=116037684584784168' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116037684584784168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/116037684584784168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/10/kuliah-4.html' title='Kuliah 4'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-115985352854650939</id><published>2006-10-03T12:21:00.000+07:00</published><updated>2006-10-12T09:40:54.606+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 3</title><content type='html'>DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH &lt;br /&gt;PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 3&lt;br /&gt;Tema: "Menulis adalah Kemampuan untuk Melihat Kembali dan Mengungkapkan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis bisa dikembangkan dengan cara-cara:&lt;br /&gt;1. Sering menulis berdasarkan kegunaan (purpose) spesifik atau audience spesifik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memahami fakta bahwa “menulis” adalah “menengok&lt;br /&gt;kembali” (writing is revising). Dengan kata lain, menulis&lt;br /&gt;adalah memperdalam keahlian Anda;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memperoleh pengalaman editing yang bermanfaat tidak hanya untuk menulis akan tetapi secara keseluruhan bermanfaat untuk pengembangan kemampuan riset dan auditory atau observasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mempublikasikan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar komunikasi, Donna M. Mc. Cune mengungkapkan pandangannya sbb. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi Anda adalah seorang profesional yang hebat. Berapa lamakah karir Anda akan tetap bersinar? 10 tahun? 20 tahun? 30 atau 50 tahun? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika profesi Anda menuntut pemikiran yang hebat, atau jika Anda harus bekerja dengan tangan atau kaki Anda, Anda mungkin masih bisa melakukannya dengan baik saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan 20 atau 30 tahun lagi? Anda jelas tidak akan bisa bertahan hanya dengan menekan-nekan tombol keyboard di depan komputer untuk melakukan entry atas hal-hal yang sama sepanjang hidup Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda bercita-cita menjadi petani atau traveller pengeliling dunia, Anda pun sudah harus mempersiapkannya dari sekarang. Lebih dari itu, ada satu hal yang bisa amat membantu mencapai apapun cita-cita Anda di masa depan dan pada saat yang sama menyelesaikan berbagai tugas Anda di masa sekarang dengan lebih baik, yaitu lebih sering menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita perhatikan baik-baik, tingkatan achievement (pencapaian) yang dianggap paling tinggi bagi seorang profesional adalah membagi semua ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Itu sebabnya setiap orang hebat di dunia pada akhirnya akan menulis buku atau menjadi public speaker yang berbicara di depan orang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, hampir bisa dipastikan bahwa karir setiap profesional akan bermuara pada aktivitas berbicara dan menulis. Menjadi pembicara atau penulis. Seorang S3 pada akhirnya harus mampu berbicara dan menulis dengan baik. Seorang pedagang asongan yang sempat menjadi konglomerat pun demikian. Maka, menulis adalah alat survival (mempertahankan hidup).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda harus percaya, muara manapun yang Anda pilih – pembicara atau penulis, kemampuan menulis adalah tulang punggungnya. Masalahnya, apa yang sudah Anda persiapkan mulai sekarang, sementara kita mengetahui bahwa aktivitas menulis Anda terbilang minim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1988, sebuah survey melaporkan bahwa 79% dari eksekutif yang menjadi objek survey mengungkapkan bahwa menulis adalah kemampuan yang paling diabaikan dalam dunia bisnis. Padahal menurut mereka, keahlian menulislah yang justru paling penting dalam konteks produktifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1989, seberkas white paper berjudul “Perspectives on Education: Capabilites for Success in Accounting Profession” mengungkapkan bahwa semua dari 8 besar kantor akuntan publik (Big-8 Firms di AS) menyepakati bahwa akademi dan universitas manapun semestinya menyediakan suatu kurikulum, yang bisa mengembangkan kemampuan komunikasi para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1990, Accounting Education Change Commission, menggaungkan sentimen yang sama sekali lagi dalam “Objectives of Education for Accountants: Position Statement Number One.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Para siswa, calon akuntan dan para profesional yang menunjukkan kemampuan komunikasi yang kuat, secara tegas menunjukkan keunggulan dalam pasar tenaga kerja dan berkecenderungan lebih berhasil di sepanjang karirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian komunikasi dalam bentuk tertulis yang kuat akan bermuara pada job placement yang lebih baik, diperolehnya kepercayaan untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar, kepuasan kerja yang lebih besar, hasil yang lebih tinggi dalam job performance evaluations dan kemajuan karir yang lebih pesat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis yang tidak jelas, ambiguous (rancu-tidak jelas) dan tak terorganisir dengan baik akan menghasilkan kerugian berupa turunnya tingkat kepercayaan supervisor atau client’s goodwill.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;US Labor Departement (Depnakernya Amrik) memberikan catatan bahwa sebagian besar bidang profesi dan pekerjaan di masa yang akan datang, akan menuntut kemampuan menulis sebagai salah satu syarat utama. Dunia kerja terus berubah dan yang akan survive adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam komunikasi, tanpa memandang bidang pekerjaannya (1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1992, Associated Press melaporkan hasil sebuah survey yang dilakukan terhadap 402 perusahaan. Survey itu mengungkapkan bahwa para eksekutif memberi penghargaan tertinggi pada kemampuan menulis namun dalam kenyataannya, 80% pegawai mereka berada pada tingkat memprihatinkan sehingga harus di upgrade kemampuan menulisnya. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 20% dibandingkan hasil survey yang sama tahun 1991.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-115985352854650939?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/115985352854650939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=115985352854650939' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115985352854650939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115985352854650939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/10/kuliah-3.html' title='Kuliah 3'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-115891197120950674</id><published>2006-09-22T14:57:00.000+07:00</published><updated>2006-10-12T09:42:35.043+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 2</title><content type='html'>DASAR-DASAR &lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH &lt;br /&gt;PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Drs. Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 2&lt;br /&gt;Tema: "Mengembangkan Pengetahuan Melalui Menulis"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan dan keahlian seseorang dapat dikembangkan dengan akurat dan efektif melalui kegiatan menulis dari pada sekedar membaca atau berdiskusi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah kembali bagaimana sulitnya saat kita masih di Taman Kanak-kanak, saat di SD, SMP, SMA atau bahkan di bangku kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah belajar dengan keras, susah payah atau bahkan menyakitkan. Mulanya kita hanya dituntut untuk bisa berkata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kita diperkenalkan pada huruf dan simbol. Selanjutnya kita dituntut untuk selalu membaca. Pada saat yang sama, kita juga mulai dituntut untuk mulai menulis dan mendengarkan orang lain dengan lebih baik. Memasuki SMP, kita diharapkan sudah menguasai semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu kita mulai menguasai semuanya. Kita mulai pintar membaca, mendengar orang lain lewat debat dan diskusi, mulai pandai berbicara dan sesekali menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKALI-SEKALI? Ya kita hanya menulis sekali-sekali saja! Coba kamu hitung dan bandingkan porsi kalian dalam membaca, mendengar atau berbicara dengan menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti terkejut bahwa aktivitas menulismu tidak akan mencapai 25% dari keseluruhan aktivitas kamu. Dalam banyak hal, pekerjaan menulis laporan atau proposal bahkan sudah menjadi semacam alergi bagi kamu sendiri. Apa yang terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakseimbangan dalam perkembangan kemampuan kalian. Dan dalam hal ini, kamu telah menyia-nyiakan apa yang sudah kamu peroleh sejak kecil dengan mengembangkannya tanpa memperhatikan proporsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis itu penting. Penting bagi karirmu, penting bagi cita-cita kalian dan penting bagi karakter kepemimpinan kamu di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan grafik berikut ini. Grafik ini tidak dibuat berdasarkan data-data, namun demikian kita bisa sangat yakin bahwa fenomena ini memang nyata adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada Grafik tapi tidak keluar!!! Lihat di print out yang kamu miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama sekolah kita masih mungkin bisa menyeimbangkan kemampuan dalam menulis, membaca, mendengar dan berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi begitu kita memasuki dunia karir dan wilayah kerja, perkembangan kemampuan menulis kita mulai tertinggal jauh dari kemampuan kita dalam membaca, mendengar dan berbicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja atau tidak, aktivitas menulis kita hanya dibatasi pada laporan, formulir atau proposal. Padahal, kemampuan kita yang lain terus tumbuh dan berkembang. Maka, sangat mungkin kemampuan menulis kamu menjadi stagnan (mandeg) atau bahkan menurun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat atau lambat, sesuai karakteristiknya penurunan kemampuan dalam menulis justru berkembang menjadi hambatan bagi kemajuan kemampuan membaca, mendengar dan berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menulis berarti kalian telah menyia-nyiakan kemampuan dasar yang sudah kalian peroleh di masa-masa awal pendidikanmu. Dengan kata lain, telah terjadi penyimpangan dari rencana hidup atau blue print kamu sendiri, yang semestinya dikembangkan secara paralel dan seimbang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah fakta-fakta tentang pentingnya menulis bagi keberhasilan seorang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hackett, Betz dan Doty (1985), dalam sebuah buku mereka mengungkapkan bagaimana karir seseorang bisa dikembangkan melalui sebuah matriks seperti berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Communication Skill Career Advancement Skill&lt;br /&gt;Interpersonal Skill Job-Specific Skill&lt;br /&gt;Political Skill Adaptive-Cognitve Skill&lt;br /&gt;Administrative and Leadership Skill Career Management Skill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menulis adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan Job-Specific Skill. Oleh sebab itu, mereka meletakkan kemampuan menulis sebagai salah satu unsur utama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-115891197120950674?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/115891197120950674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=115891197120950674' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115891197120950674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115891197120950674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/09/kuliah-2_22.html' title='Kuliah 2'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-34244389.post-115812379791801894</id><published>2006-09-13T10:43:00.002+07:00</published><updated>2006-10-12T09:47:31.340+07:00</updated><title type='text'>Kuliah 1</title><content type='html'>DASAR-DASAR&lt;br /&gt;PENULISAN NASKAH&lt;br /&gt;PUBLIC RELATIONS&lt;br /&gt;Oleh : Sjafriel Salim, MPS Comm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah 1&lt;br /&gt;Tema: "Kemampuan Menulis = Kemampuan Berkomunikasi"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan dibawah ini ingin menunjukkan pada kalian mengenai betapa pentingnya keahlian menulis dalam hidup seseorang, lebih-lebih lagi sebagai seorang pratiksi PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu:&lt;br /&gt;“Keahlian Berkomunikasi (baca: menulis) adalah Kunci Keberhasilan Kaum Profesional”&lt;br /&gt;(Anonim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua:&lt;br /&gt;"Communication is the most important skill in life."-- Stephen Covey (Pengarang Seven Habits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga:&lt;br /&gt;“Reading makes a full man, conference a ready man, and writing an exact man” – Sir Francis Bacon&lt;br /&gt;(Bapak Ilmu Pengetahuan Modern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat:&lt;br /&gt;“Writing – the art of communicating thoughts to the mind – is the great invention in the world Great, very great, it enabling us to converse with the dead, the absent, and the unborn, at all distances of time and space, and great not only in its direct benefits, but its great help to all other inventions.” – Abraham Lincoln (Mantan Presiden Amerika)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima:&lt;br /&gt;“From poetry to letters to stories to laws, we must learn to write in order to participate in the range of experiences available to us as human beings. Our spiritual lives, our economic success, and our social networks are all directly affected by our willingness to do the work necessary to acquire the skill of writing. In a very real way neither our democracy nor our personal freedoms will survive unless we as citizens take the time and make the effort needed to learn how to write.” -- Mantan Senator, Bob Kerry (National Commission on Writing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam:&lt;br /&gt;"Kemampuan menulis setiap orang hanya dibatasi oleh imajinasi."— Ikhwan Sopa (Penulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca; Melihat;Mendengar; Berbicara; dan Menulis&lt;br /&gt;Sebagai profesional, kita dituntut untuk selalu berhubungan dengan pihak lain. Berhubungan dengan pihak lain dilakukan dengan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, benar, efektif dan efisien adalah tuntutan mutlak bagi kemajuan karir, enterpreneurship dan leadership. Itu sebabnya orang-orang yang punya karir bagus, pengusaha sukses dan para pemimpin besar bisa dipastikan hebat dalam berbicara, menulis, membaca dan mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa memastikan hal itu dengan melihat berbagai fakta sejarah dari orang-orang terkenal. Lihatlah Adolf Hitler, Mussolini, Bung Karno, Bung Hatta, RA Kartini, Fidel Castro, Saddam Husein, Kwik Kian Gie, Gde Prama, Rhenald Kasali, Bondan Winarno atau Hermawan Kertajaya. Itu semua masih terlalu sedikit untuk mewakili semua contoh nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato mereka begitu terkenal, menjadi inspirasi dan didengar oleh banyak orang. Kata-kata mereka menjadi kutipan abadi. Buku, tulisan dan bahkan surat-surat pribadi mereka menjadi best seller sepanjang zaman. Mereka telah membaca begitu banyak literatur dan referensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mereka baca selalu dianjurkan untuk dibaca oleh semua orang lain hanya karena mereka membacanya, dengan harapan kemampuan mereka bisa diwarisi oleh para pengikutnya. Lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang sangat pandai dalam mendengarkan orang lain, situasi dan keadaan. Mereka adalah para ahli dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa toko buku tak pernah sepi dari pengunjung? Mengapa sepatah dua patah kata dari para tokoh dan selebriti selalu diharapkan dalam setiap event? Mengapa kursus bahasa Inggris dan ilmu komputer begitu laris? Mengapa iklan di media massa dipandang sebagai cara efektif untuk mendongkrak penjualan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa narasumber tertentu begitu sibuknya menjawab pertanyaan konsultasi atau memberikan seminar dan pelatihan? Kuncinya adalah fakta bahwa setiap orang secara alamiah sangat menghargai kemampuan berkomunikasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati, kemampuan berkomunikasi dikembangkan dari empat modal pokok yaitu:&lt;br /&gt;- Listening atau mendengar;&lt;br /&gt;- Speaking atau berbicara;&lt;br /&gt;- Reading atau membaca; dan&lt;br /&gt;- Writing atau menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bahwa empat modal dasar di atas tidak pernah berdiri sendiri. Perhatikan pula bahwa urut-urutannya tidak bisa ditentukan dengan ranking. Anda pasti yakin bahwa sekalipun writing atau menulis dalam modal dasar di atas diletakkan di baris akhir, keberadaannya harus tetap merupakan satu kesatuan dengan modal dasar lainnya secara proporsional dan berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus kita lakukan adalah mencapai keseimbangan itu dengan menulis sebanyak kita berbicara, mendengar dan membaca. Anda bisa mencapai apa yang Anda cita-citakan dalam karir, enterpreunership dan leadership hanya jika Anda memiliki bekal yang lengkap. Salah satunya, adalah kemampuan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus Menulis?&lt;br /&gt;Dalam berkomunikasi lisan, kita menyampaikan ide kepada orang lain. Komunikasi itu hanya akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak disampaikan memang bisa tepat sama dengan apa yang dipersepsi oleh pihak penerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis, kata-kata adalah batu bata dalam berkomunikasi yang memiliki fungsi sama. Berbicara kepada anak-anak membutuhkan bahasa lisan yang bisa dimengerti dan dipahami oleh anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kepada orang tua dari kaum profesional menuntut hal yang sama. Begitu pula dengan menulis. Jika Anda sudah berbicara seumur hidup Anda, maka Anda sangat mungkin tidak menghadapi kendala dalam berkomunikasi lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, jika akumulasi aktivitas menulis Anda hanya 3 tahun sementara usia Anda sudah 25 tahun atau lebih, maka Anda sangat mungkin mengalami berbagai kesulitan dalam berkomunikasi secara tertulis. Sebabnya hanya satu, jam terbang Anda dalam menulis masih terhitung rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekali lagi, kita tidak punya pilihan lain kecuali mencoba untuk menulis sebanyak kita membaca, sebanyak kita mendengar dan sebanyak kita berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulir, laporan, proposal, hasil pertemuan, perjanjian, pernyataan, research memo, judicial review dan sebagainya jelas menuntut keahlian menulis yang baik. Itu artinya perlu latihan, brainstorming dan diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu media latihan yang terbaik adalah menulis di berbagai media seperti jurnal, majalah, surat kabar dan sebagainya atau bahkan menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menulis menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francis Bacon (filsuf Inggris yang disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan Modern) mengatakan “reading makes a full man, conference a ready man, and writing an exact man”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/34244389-115812379791801894?l=dosenpnpruii.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/feeds/115812379791801894/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=34244389&amp;postID=115812379791801894' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115812379791801894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/34244389/posts/default/115812379791801894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dosenpnpruii.blogspot.com/2006/09/kuliah-1_13.html' title='Kuliah 1'/><author><name>Dosen PNPR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18333517149189020930</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry></feed>
